Krisis AS – Iran Ganggu Pasar Energi dan Keuangan Global

BRIEF.ID – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir setelah kedua negara terlibat aksi militer baru yang mengakhiri upaya gencatan senjata sebelumnya. Situasi ini memicu kekhawatiran  meluasnya konflik di Timur Tengah dan berdampak langsung pada pasar energi serta keuangan global.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa militer AS melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran, termasuk fasilitas pertahanan pesisir dan lokasi peluncuran rudal. Washington menyatakan operasi tersebut bertujuan melindungi jalur pelayaran internasional dan menjaga keamanan di kawasan.

Sebaliknya, Iran menegaskan akan mempertahankan posisinya dan menyebut konflik yang terjadi sebagai “perang eksistensial.”

Ketua parlemen dan negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengatakan Iran siap melakukan konfrontasi militer yang lebih besar jika AS tidak memenuhi persyaratan kesepakatan sementara, dan Garda Revolusi Iran mengancam akan menghentikan semua ekspor energi dari Timur Tengah sebagai bentuk protes atas blokade AS.

“Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini akan menjadi milik semua orang atau tidak untuk siapa pun,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran, dikutip dari Associated Press, Kamiss (16/7/2026).

Tak lama setelah AS melancarkan gelombang serangan ketiga dalam 24 jam, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran siap untuk mencapai kesepakatan damai, tetapi ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

“Mereka tidak menyukai apa yang kita lakukan, dan mereka ingin berdamai. Kita akan mencari tahu apakah kita akan berdamai dengan mereka, atau kita akan mengakhirinya,” katanya dalam sebuah pertemuan puncak pertahanan di U.S. Army War College di Pennsylvania, AS, Rabu (15/7/2026).

Ketegangan juga berpusat di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan di jalur itu telah mendorong kenaikan harga minyak mentah, meningkatkan biaya pengiriman, dan menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Sejumlah maskapai internasional bahkan mengubah rute penerbangan untuk menghindari wilayah udara Timur Tengah demi alasan keselamatan.

Di pasar keuangan, meningkatnya konflik mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan obligasi pemerintah. Sementara itu, pasar saham global bergerak lebih volatil karena pelaku pasar menilai risiko perlambatan ekonomi jika konflik berkepanjangan dan mengganggu distribusi energi dunia.

Komunitas internasional terus menyerukan penahanan diri dan penyelesaian melalui jalur diplomasi guna mencegah eskalasi yang lebih luas. Para analis menilai perkembangan beberapa hari ke depan akan menjadi penentu apakah konflik dapat diredam melalui perundingan atau justru berkembang menjadi krisis regional yang lebih besar. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Mick Jagger: Konser Bukan Panggung Ceramah Politik

BRIEF.ID – Vokalis legendaris The Rolling Stones, Mick Jagger,...

Hari Ini, Harga Emas Antam Stabil di Rp 2,635 Juta per Gram

BRIEF.ID – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk...

IHSG Diperkirakan Berpeluang Menguat Terbatas

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan  berpeluang...

Bursa Saham AS Ditutup Menguat

BRIEF.ID – Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat...