BRIEF.ID – Militer Israel dan militan Hizbullah yang didukung Iran dilaporkan bentrok di Lebanon selatan, beberapa hari sebelum AS dijadwalkan menjadi tuan rumah delegasi dari Israel dan Lebanon untuk perundingan.
Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, yang dimediasi Washington berpotensi membahayakan negosiasi perdamaian antara AS dan Iran. Teheran menuntut agar setiap perjanjian juga mencakup penghentian pertempuran di Lebanon.
Di sisi lain, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, Israel akan memperluas operasi militer di Lebanon. Ia menambahkan, pasukan Israel telah “merebut area strategis” dan bertujuan memperkuat area di Lebanon selatan, yang kini berada di bawah kendali Israel, demikian dikutip dari laporan Associated Press, Kamis (28/5/2026).
Laporan itu menyebutkan, Hizbullah mengklaim telah melancarkan serangan roket, artileri, dan drone peledak terhadap pasukan serta kendaraan Israel.
Sejumlah laporan juga muncul ketika perundingan AS dan Iran untuk mengakhiri perang yang hampir tiga bulan, menghadapi arah yang tidak pasti.
Media Al Jazeera melaporkan bahwa negosiasi tidak langsung antara Washington dan Teheran terus berlanjut, meskipun terjadi baku tembak, pada awal pekan ini. AS menekankan bahwa gencatan senjata yang rapuh tetap berlaku, meskipun Iran telah memperingatkan akan melakukan pembalasan jika gencatan senjata dilanggar.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan membutuhkan “beberapa hari” bagi Washington dan Teheran untuk mencapai kesepakatan.
Laporan media juga menunjukkan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan kerangka kerja. Syarat-syarat perjanjian tersebut, termasuk perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur air vital di lepas pantai selatan Iran yang dilalui seperlima minyak dunia.
Sebagian besar wilayan Selat Hormuz telah ditutup sejak dimulainya perang pada akhir Februari, yang membatasi pasokan minyak dan mendorong harga minyak mentah lebih tinggi. (nov)


