BRIEF.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyoroti ancaman perubahan iklim terhadap kawasan pesisir, mulai dari banjir rob, penurunan muka tanah, hingga kenaikan permukaan air laut.
Persoalan tersebut menjadi salah satu tantangan pembangunan Jakarta sebagai kota pesisir yang memiliki wilayah laut mencapai 6.977,5 kilometer persegi.
Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Uus Kuswanto mengemukakan pengelolaan kawasan pesisir dan kepulauan di Jakarta saat ini membutuhkan pendekatan terpadu untuk melindungi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Hal itu disampaikan Uus saat menghadiri Gala Dinner Workshop on Managing Potential Conflicts in the South China Sea ke-35 di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Senin (28/9) malam.
Dalam kesempatan tersebut, Uus juga menegaskan posisi Jakarta sebagai salah satu simpul penting diplomasi regional yang terbuka terhadap dialog, kerja sama, dan pembangunan kepercayaan antarnegara.
Dia mengapresiasi penyelenggaraan workshop yang telah berlangsung lebih dari tiga dekade. Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pihak dalam menjembatani perbedaan dan membahas persoalan bersama demi menjaga stabilitas kawasan.
Uus mengatakan, karakter Jakarta sebagai kota pesisir tidak dapat dipisahkan dari arah pembangunan daerah. Jakarta terdiri atas lima kota administrasi dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu yang mencakup 110 pulau.
“Jakarta tidak hanya dibentuk oleh dinamika perkotaan, tetapi juga oleh kedekatannya dengan laut. Jakarta terdiri atas lima kota administrasi dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu yang mencakup 110 pulau,” tuturnya.
Dengan luas wilayah laut mencapai 6.977,5 kilometer persegi, kawasan pesisir menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan Jakarta. Terlebih, wilayah tersebut menghadapi sejumlah ancaman lingkungan yang membutuhkan penanganan jangka panjang.
“Untuk menjawab tantangan tersebut, kami terus mendorong pengelolaan kawasan pesisir dan kepulauan secara terpadu guna melindungi masyarakat, memulihkan ekosistem, serta memperkuat ketahanan Jakarta bagi generasi mendatang,” katanya.
Bersama pemerintah pusat, Pemprov DKI Jakarta menjalankan program National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) untuk memperkuat perlindungan kawasan pesisir. Salah satu bagian dari program tersebut adalah pembangunan tanggul laut sepanjang 38,9 kilometer.
Namun, upaya perlindungan pesisir tidak hanya dilakukan melalui pembangunan infrastruktur. Pemprov DKI juga mendorong pemulihan ekosistem mangrove dan terumbu karang di Kepulauan Seribu.
“Pada saat yang sama, kami juga terus melakukan pemulihan mangrove dan terumbu karang di Kepulauan Seribu untuk menjaga keanekaragaman hayati, memperkuat ekosistem pesisir, dan membantu penyerapan karbon,” ujar Uus.
Di sisi lain, Uus mengajak para peserta workshop mengenal Jakarta sebagai kota yang memiliki perpaduan sejarah, budaya, dan kehidupan modern. Dia menyebut Kota Tua, kawasan gedung pencakar langit, serta pusat belanja dan hiburan sebagai sejumlah destinasi yang dapat dikunjungi.
Menurutnya, keberagaman penduduk Jakarta menjadi salah satu karakteristik yang membentuk kehidupan sosial ibu kota. Berbagai budaya hidup berdampingan di tengah dinamika perkotaan yang terus berkembang.
Uus juga menyampaikan bahwa Jakarta akan memasuki usia 500 tahun pada 2027. Pemerintah daerah berencana mengisi momentum tersebut dengan berbagai festival, kegiatan budaya, dan perayaan khusus.
Sementara itu, Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri RI Muhammad Takdir berharap Workshop on Managing Potential Conflicts in the South China Sea ke-35 dapat menghasilkan respons praktis terhadap tantangan kawasan yang terus berkembang.
“Saya percaya bahwa samudra kita dapat menjadi seperti Jakarta: sebuah ruang bersama di mana keberagaman dirangkul, perbedaan perspektif dihormati, dan komunitas memilih kerja sama di tengah perbedaan mereka,” tuturnya.
Takdir menegaskan Indonesia siap terus memfasilitasi ruang komunikasi dan pembangunan kepercayaan antarnegara melalui forum tersebut. Acara itu turut dihadiri Ketua Prof. Hasjim Djalal Center for Southeast Asian Studies Dino Patti Djalal, Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Firdaus Ali, serta sejumlah pejabat terkait lainnya. (ayb)


