BRIEF.ID – Indeks harga saham di Bursa Wall Street, New York, Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026) menguat setelah adanya laporan bahwa draf akhir perjanjian perdamaian AS-Iran telah tercapai dengan bantuan mediator Pakistan. Imbal hasil obligasi Treasury jangka panjang dan harga minyak turun.
Dikutip dari Investing.com, Jumat (22/5/2026), reaksi raksasa chip kecerdasan buatan (AI), Nvidia kurang antusias terhadap laporan kuartalannya, akibat pendapatan yang kuat diimbangi kekhawatiran valuasi.
Indeks acuan S&P 500 naik 0,2% untuk ditutup pada 7.446,05 poin dan Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi naik 0,1% untuk ditutup pada 26.293,10 poin. Dow Jones Industrial Average yang didominasi saham unggulan bertambah 0,3% untuk ditutup pada 50.285,66 poin, mencatat penutupan rekor pertamanya sejak awal Februari.
Draf akhir perjanjian perdamaian antara Washington dan Teheran telah tercapai dengan mediasi Pakistan dan diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa jam ke depan, lapor Kantor Berita Buruh Iran, ILNA mengutip pemberitaan Arab Saudi, Al Arabiya.
Ketentuan utama perjanjian tersebut mencakup gencatan senjata segera di semua front, jaminan kebebasan navigasi di Teluk dan Selat Hormuz, serta dimulainya negosiasi mengenai isu-isu yang belum terselesaikan dalam waktu sepekan, kata ILNA mengutip Al Arabiya.
Harga minyak langsung turun. Kontrak berjangka minyak mentah Brent, patokan minyak global, terakhir turun 0,7% menjadi US$ 104,33 per barel.
Harapan atas penyelesaian konflik Timur Tengah sempat terpukul setelah Reuters melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah mengeluarkan arahan bahwa uranium negara yang hampir setara dengan uranium untuk senjata nuklir tidak boleh dikirim ke luar negeri.
Langkah itu mengisyaratkan penegasan sikap Iran terhadap salah satu poin penting dalam negosiasi dengan AS, karena Presiden AS Donald Trump setelah berulang kali mengatakan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Al Jazeera melaporkan, Teheran membantah laporan tentang perintah Khamenei, mengutip seorang pejabat senior Iran, yang menyebutnya sebagai “propaganda oleh musuh-musuh kesepakatan.” Gedung Putih juga menolak laporan itu, menggambarkannya sebagai berita palsu, lapor Fox News, mengutip seseorang yang terlibat langsung dalam negosiasi.
Pada Rabu (20/5/2026), Trump mengatakan AS berada di “tahap akhir” dari rancangan perjanjian perdamaian potensial dengan Iran, meskipun ia membangkitkan kemungkinan peningkatan kembali permusuhan, memperingatkan bahwa “kita akan melakukan beberapa hal yang agak buruk” jika kesepakatan tidak tercapai. Ia juga telah menunda serangan militer terhadap Iran atas permintaan tiga pemimpin Teluk. (nov)


