IHSG Terjun Bebas, Bursa Asia Terpuruk

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (30/4/2026) terjun bebas 144,42 poin atau 2,03% ke level 6.956.  

Volume perdagangan mencapai  476,3 juta lot saham dan membukukan nilai transaksi Rp 21,49 triliun. Saham-saham  top gainers LQ45 adalah  BUMI, ADRO, AADI, AKRA, ITMG, JPFA, dan EMTK. Sedangkan saham-saham top losers LQ45 adalah  DSSA, BRPT, MAPI, BREN, NCKL, MDKA, dan UNTR.

Semua sektor berada di zona merah. Sektor industri paling terpuruk setelah turun 2,95%. Saham-saham  sektor industri yang mengalami pelemahan antara lain, GMFI yang turun  4,56%, SMSM -3,49%, ASII -1,24%, dan HEXA -0,45%.

Bursa Asia

Bursa Asia terpuruk seiring terjadinya lonjakan  harga minyak mentah  ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Minyak Brent berhasil menembus angka US$ 126 per barel. Di sisi lain, Bank Sentral AS, The Fed menahan  suku bunga, meski suara di internal pecah, di mana tiga anggota menghendaki diterapkannya kebijakan lebih agresif dan imbal hasil (yield) obligasi global naik tajam.

Pada Kamis (30/4/2026), indeks MSCI saham Asia-Pasifik di luar Jepang turun 1%.

“Bank sentral menunggu untuk melihat hasil mana yang akan terjadi sebelum mengambil langkah tegas ke arah mana pun. Sama seperti kapal yang melintasi Selat Hormuz, mereka berlayar melalui ladang ranjau, dengan bahaya mengintai di setiap belokan.”

Obligasi global terpukul  setelah lonjakan harga minyak dan kebijakan Fed yang agresif memicu aksi jual obligasi pemerintah. Pasar dengan cepat memperkirakan penurunan suku bunga dari Fed tahun ini dan ada kemungkinan yang hampir sama untuk kenaikan suku bunga pada musim semi mendatang.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS acuan naik 1 basis poin menjadi 4,4298%, setelah melonjak 6 bps semalam menjadi 4,434%, tertinggi sejak akhir Maret.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10 tahun naik 4 bps menjadi 2,500%, tertinggi sejak Juni 1997. Imbal hasil obligasi pemerintah Australia 10 tahun melonjak 6 bps menjadi 5,066%.

Indeks saham di Bursa Asia tercatat Nikkei225 (Jepang) turun sebesar 1,06% ke 59.284; Topix (Jepang) melemah 1,19% ke 3.727; Indeks Shanghai (Tiongkok) naik 0,11% ke 4.112; Indeks Shenzhen Component (Tiongkok) -0,09% ke 15.107; CSI 300 (Tiongkok) -0,06% ke 4.807; Hang Seng (Hong Kong) -1,28% ke 25.776; Indeks Kospi (Korsel) -1,38% ke 6.598; Taiex (Taiwan) -0,96% ke 38.926; dan S&P/ASX200 (Australia) -0,08% ke 8.786.                                                    

Sementara itu, mata uang Asia  tercatat Yen naik 0,44% menjadi 159,70 per Dolar AS; SGD naik 0,20% menjadi 1,2787 per Dolar AS; AUD naik 0,24% ke posisi 0,7133 per Dolar AS; melemah  0,12% menjadi 17.346 per Dolar AS; Rupee turun 0,26% ke 95,1012 per Dolar AS; Yuan melaju 0,11% ke 6,8323 per Dolar AS;  Ringgit merosot  0,47% ke 3,9702 per Dolar AS; dan Baht menguat 0,44% ke 32.6330 per Dolar AS.

Bursa Eropa

Pasar saham Eropa dibuka anjlok tajam pada  Kamis (30/4/2026) karena investor mengamati secara saksama laporan terbaru tentang perang Iran-AS serta memantau sejumlah pendapatan perusahaan serta keputusan bank sentral.

Indeks acuan pasar Eropa, Stoxx 600 melemah 0,4% pagi hari  waktu London. Indeks CAC 40 Prancis turun  1,10%; Indeks FTSE MIB Italia turun  0,90%; Indeks FTSE 100 menguat  0,22% dan Indeks DAX Jerman merosot  0,32%.

Harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi baru dalam empat tahun pada hari Kamis (30/4/2026) petang menyusul kekhawatiran bahwa perang AS-Iran akan memburuk dan menyebabkan gangguan pasokan minyak Timur Tengah yang berkepanjangan  dapat merugikan pertumbuhan ekonomi global.

Harga minyak mentah Brent berjangka naik US$ 4,28 atau 3,63% menjadi US$ 122,31 per barel setelah menyentuh level tertinggi intraday US$ 126,41, tertinggi sejak 9 Maret 2022. Kontrak bulan Juni, yang naik selama sembilan hari berturut-turut, akan berakhir pada hari Kamis. Kontrak Juli yang lebih aktif berada di US$ 112,49, naik US$ 2,05, atau 1,86%.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS naik US$ 1,46  atau 1,37%, menjadi US$ 108,34 per barel, tertinggi sejak 7 April, memperpanjang kenaikan 7% pada sesi sebelumnya. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Kuartal I-2026, Penjualan Apple Naik 17%

BRIEF.ID – Perusahaan teknologi multinasional Amerika Serikat (AS), Apple...

Aung San Suu Kyi Dipindahkan ke Tahanan Rumah

BRIEF.ID – Mantan pemimpin Myanmar yang ditahan, Aung San...

Indonesia Dorong Penguatan ketahanan Energi, Pangan, dan Rantai Pasok ASEAN

BRIEF.ID - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia terus...

BRI Sukses Pertahankan Momentum Kinerja Solid, Penyaluran Kredit Tembus Rp1.562 T

BRIEF.ID- Di tengah meningkatnya risiko global akibat eskalasi konflik...