IHSG Masih Tertekan, Investor Respons Negatif Kebijakan Tata Kelola Ekspor

BRIEF.ID – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (22/5/2026) diperkirakan masih berada dalam tekanan. Hal itu terjadi karena investor merespons negatif kebijakan pemerintah untuk memperketat pengawasan dan tata kelola ekspor komoditas nasional.

Presiden Prabowo Subianto  telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam, sebagai langkah strategis untuk memperkuat pengawasan dan tata kelola ekspor komoditas.

Berdasarkan kebijakan itu, penjualan ekspor komoditas harus dilakukan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditunjuk pemerintah sebagai pengekspor tunggal . Kebijakan kurang menguntungkan bagi pelaku usaha itu  akan dimulai dari tiga komoditas strategis, yaitu minyak kelapa sawit, batubara, dan paduan besi (ferro alloys).

“Kami masih mencermati saham tambang BUMN dan mewaspadai risiko tekanan lanjutan pada saham tambang non-BUMN,” demikian riset Phintraco Sekuritas, yang dirilis Jumat (22/5/2026).

Disebutkan, IHSG akan bergerak pada resistance 6.200, pivot 6.100, dan support 5.880. Saham-saham yang diunggulkan adalah HMSP, INDF, TINS, WIIM, dan CPIN.

Sebelumnya, IHSG ditutup melemah di level 6.094,91 atau turun 3,54% pada perdagangan, Kamis (21/5/2026). Di tengah minimnya katalis positif, IHSG kembali mengalami tekanan jual akibat sentimen negatif yang datang bertubi-tubi.

Secara teknikal, IHSG telah menutup gap di level 6092. Jika tekanan jual berlanjut, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level psikologis di 6.000 dan support kuat berikutnya di level 5.882.  

Di saat situasi eksternal yang kurang kondusif karena  konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan dan penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga minyak mentah lebih lama dari perkiraan, Pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan yang direspon negatif oleh investor karena dinilai berdampak negatif terhadap iklim investasi dalam jangka pendek.

Di sisi lain, berbagai kebijakan baru Pemerintah tersebut kemungkinan dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan negara sehingga dapat menutup defisit APBN.  Sementara itu, rebalancing FTSE dan MSCI juga berpotensi masih akan menjadi faktor negatif yang membayangi pergerakan indeks di BEI.

Saham perbankan diperkirakan masih akan tertekan menyusul pernyataan Fitch Ratings, bahwa peringkat jangka panjang bank Himbara sangat dipengaruhi oleh dukungan Pemerintah. Fitch menyatakan bahwa peringkat bank Himbara berada pada level yang sama dengan peringkat Indonesia di BBB/Negatif, yang mencerminkan potensi kurangnya kemampuan Pemerintah mendukung perbankan jika tekanan fiskal meningkat.

Sedangkan S&P Global Ratings menyatakan, rencana Indonesia  mengendalikan ekspor komoditas secara terpusat berpotensi merugikan ekspor yang dapat menekan pendapatan negara dan berdampak terhadap neraca pembayaran. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Pengamat: Bukan Sekadar Konektivitas, Jalan Tol Penggerak Ekosistem Ekonomi

BRIEF.ID – Pembangunan jalan tol tidak lagi dapat dipandang...

Meriah, Ribuan Warga Mataram Sambut Marc Marquez dan Para Rider MotoGP Mandalika 2026

BRIEF.ID – Kemeriahan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026...

IHSG Ambruk ke Bawah Level 6.100, Lebih dari 400 Saham Turun Harga

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Rupiah Hari Ini Turun Lagi ke Level Rp17.900 Jelang Rilis Indeks Keyakinan Konsumen

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika...