IHSG Diperkirakan Volatil, Investor Tunggu Data Ekonomi dan Rebalancing MSCI

BRIEF.ID –  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (31/8/2026), diperkirakan bergerak volatil seiring sikap hati-hati investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi nasional pada Selasa (1/9/2026).

Data yang menjadi perhatian pasar meliputi Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufacturing, neraca perdagangan, dan inflasi. Investor juga mencermati periode efektif rebalancing indeks MSCI pada 31 Agustus 2026 yang berpotensi meningkatkan volatilitas transaksi saham.

Memasuki September, pelaku pasar juga mewaspadai potensi peningkatan volatilitas karena secara historis pergerakan pasar saham cenderung lebih berfluktuasi pada bulan tersebut.

IHSG diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kisaran 6.400-6.600 sepanjang pekan ini. Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG memiliki level resistance 6.600, pivot 6.500, dan support 6.400.

Sejumlah saham yang direkomendasikan untuk dicermati investor, antara lain BBCA, TLKM, DSSA, BBRI, dan EXCL.

Wall Street Tertekan

Dari pasar global, indeks utama Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat (28/8/2026). Sentimen pasar tertekan oleh pidato Chairman The Fed Kevin Warsh yang dinilai cenderung hawkish.

Pernyataan Warsh membayangi penguatan saham sektor barang konsumsi dan layanan komunikasi. Di sisi lain, kenaikan sejumlah saham teknologi berkapitalisasi besar membantu membatasi tekanan terhadap indeks.

Warsh menyatakan tren inflasi Amerika Serikat belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Dia juga menegaskan kembali bahwa fokus The Fed adalah menjaga stabilitas harga.

Pernyataan ini mendorong probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi 59%, dari sebelumnya 35%, berdasarkan CME FedWatch. Ekspektasi juga turut mendorong imbal hasil US Treasury 10 tahun naik 5,3 basis poin menjadi 4,725% pada Jumat (28/8/2026).

Investor global selanjutnya akan mencermati pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka panjang yang masih berada pada level relatif tinggi menjelang September.

Kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury jangka panjang dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain harga energi, tingginya penerbitan utang korporasi terkait investasi kecerdasan buatan (AI), serta defisit anggaran AS yang masih lebar. Kondisi tersebut berlangsung di tengah indikasi perlambatan moderat ekonomi AS.

Perhatian investor pekan ini juga tertuju pada sejumlah data ketenagakerjaan AS yang akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah kebijakan moneter The Fed.

Warsh menilai pasar tenaga kerja AS masih berada dalam kondisi full employment, yang menunjukkan perekonomian telah menyerap tenaga kerja secara optimal dan mandat The Fed terkait pasar tenaga kerja telah terpenuhi. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Kapolri Mutasi 299 Perwira dalam Dua Pekan, IPW Peringatkan Potensi Gesekan di Internal Polri

BRIEF.ID – Perombakan besar-besaran di tubuh Polri pada awal...

Rupiah Anjlok Sentuh Level Rp17.950 per Dolar AS, Dipicu Lonjakan Harga Minyak Dunia dan Inflasi AS

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah anjlok hingga menyentuh...

Harga Emas Antam Makin Melemah, Terseret Lonjakan Inflasi AS

BRIEF.ID - Harga emas batangan produksi PT  Aneka Tambang...

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Belanja Besar Tak Sepadan Pertumbuhan

BRIEF.ID - Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, dan...