BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan awal pekan ini dan berpeluang melanjutkan koreksi. Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dengan level resistance 6.400, pivot 6.300, dan support 6.200.
Dalam risetnya, Phintraco Sekuritas menyebut IHSG berpotensi menguji area 6.186–6.200 sepanjang pekan ini. Sejumlah saham yang menjadi perhatian antara lain ADRO, ITMG, AADI, BBRI, dan BBCA.
Pada perdagangan Jumat (25/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,90% ke level 6.241,89. Tekanan terhadap pasar domestik terjadi di tengah perhatian investor terhadap perkembangan ekonomi global dan geopolitik.
Di pasar global, indeks-indeks utama Wall Street ditutup menguat pada Jumat dan mencatatkan kinerja positif sepanjang pekan. Penguatan terutama didukung saham sektor teknologi serta koreksi harga minyak, meskipun imbal hasil US Treasury masih berada pada level tinggi.
Investor juga mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Harapan mengenai kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz muncul setelah Iran mengusulkan agar Amerika Serikat kembali pada nota kesepahaman yang dibahas pada Juni lalu. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pergerakan harga minyak dan sentimen pasar global.
Dari hubungan perdagangan AS dan Tiongkok, kedua negara disebut sepakat memperpanjang gencatan senjata perang dagang hingga 10 Januari 2027. Sebelumnya, kesepakatan tersebut dijadwalkan berakhir pada November 2026. Pertemuan lanjutan kedua pemimpin negara dijadwalkan berlangsung dalam KTT APEC di Tiongkok pada November dan KTT G20 di Miami, Amerika Serikat, pada Desember 2026.
Di dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi yang dijadwalkan dirilis pada Kamis (1/10/2026), yakni Manufacturing PMI, neraca perdagangan, dan data inflasi.
Selain sentimen global dan data ekonomi, investor juga mencermati perubahan sejumlah ketentuan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mulai berlaku pada Senin (28/9/2026).
BEI menurunkan batas minimum harga saham di pasar reguler dan pasar tunai dari Rp50 menjadi Rp1 per saham. Untuk saham dengan rentang harga Rp1 hingga Rp10, batas Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) ditetapkan sebesar Rp1.
Sementara itu, untuk saham dengan harga di atas Rp10, ketentuan ARB asimetris sebesar 15% masih diberlakukan hingga 31 Desember 2026 dan akan kembali diterapkan secara simetris mulai 1 Januari 2027.
BEI juga menghapus empat kriteria dalam penerapan Full Call Auction (FCA), yakni kriteria 1, 6, 7, dan 10. Dengan perubahan tersebut, sebanyak 92 saham yang sebelumnya masuk FCA karena kriteria tersebut dikembalikan ke papan pencatatan semula.
Diperkirakan, pergerakan IHSG pada pekan ini akan sangat bergantung pada kemampuan indeks mempertahankan area support 6.200 serta perkembangan sentimen global dan data ekonomi domestik yang akan dirilis. (nov)


