Pestapora 2026 Bikin Penonton Dilema: Ingin Pindah Panggung, Lautan Manusia Jadi Tantangan

BRIEF.ID – Festival Pestapora 2026 yang diselenggarakan di Gambir Expo dan Hall D2 JIEXPO Kemayoran, Jakarta, sukses mencuri perhatian dan menghadirkan pengalaman berbeda bagi para pencinta musik di Tanah Air.

Pada gelaran hari kedua (D2) Pestapora, Sabtu (26/9), penonton tidak hanya disuguhi parade musisi dari berbagai genre, tetapi juga menghadapi satu persoalan yang terdengar sederhana namun cukup menguras tenaga: berpindah dari satu panggung ke panggung lainnya.

Seorang penonton bernama Neneng Herbawati juga menggambarkan situasi dan pengalamannya menikmati perhelatan Pestapora hari kedua dengan kalimat, “Nafsu besar, tenaga kurang.”

Bukan karena usia, melainkan karena begitu banyak penampil menarik yang tampil hampir bersamaan sehingga keinginan untuk menikmati semuanya tidak sebanding dengan kemampuan untuk berpindah panggung.

“Rasanya pengin menikmati semuanya. Apa daya, mau melangkahkan kaki dan pindah panggung saja susahnya bukan main. Lautan manusia,” ujarnya melalui akun media sosial pribadinya.

Kepadatan penonton menjadi salah satu pemandangan yang paling terasa, terutama ketika sejumlah nama besar tampil. Menariknya, keramaian tersebut tidak hanya diisi anak muda. Penonton Pestapora terlihat datang dari berbagai kelompok usia, mulai dari balita yang digendong orang tua, anak muda, hingga penonton usia dewasa.

Pada malam itu, Sheila On 7 tampaknya menjadi salah satu magnet utama. Bahkan, sang penonton sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan area panggung Sheila On 7 demi menyaksikan penampilan Nadhif Basalamah di panggung Satset.

Namun, rencana tersebut akhirnya urung dilakukan. Pertimbangannya sederhana, tetapi menjadi dilema bagi banyak penonton: berpindah panggung berarti mengambil risiko kehilangan posisi di depan panggung Sheila On 7.

Dilema tersebut semakin terasa karena penonton yang telah berada di area depan panggung Sheila On 7 harus berhadapan dengan kepadatan manusia. Sejumlah penonton bahkan memilih mundur setelah tiga hingga empat lagu dibawakan Duta dan kawan-kawan.

“Bukan karena tak cinta, tetapi mungkin sudah waktunya memberi ruang bagi diri sendiri,” katanya sambil berkelakar.

Hari kedua konser Pestapora yang bertepatan dengan malam Minggu dan suasana bulan purnama pun menjadi semacam panggung besar bagi pertemuan berbagai selera musik.

Raisa berkolaborasi dengan Andi Rianto, sementara Mahalini, Lesti Kejora, Inul Daratista, Raim Laode, Pamungkas, hingga Andmesh, turut mengisi rangkaian pertunjukan.

Di panggung lainnya, penonton dapat menemukan Sheila On 7, MALIQ & D’Essentials, Barasuara, Perunggu, MORFEM, Dialog Dini Hari, Rhoma Irama & Soneta, Erwin Gutawa Orchestra feat. Fourtwnty, Burgerkill, Saykoji, Trio Ambisi dan sejumlah penampil lainnya.

Keragaman tersebut membuat Pestapora tidak hanya menjadi festival bagi satu generasi atau satu jenis musik. Musik populer lintas era bertemu dengan musisi dari generasi yang lebih muda, menciptakan pengalaman yang memungkinkan penonton berpindah dari satu suasana ke suasana lainnya dalam satu malam.

Bagi penonton, kekuatan Pestapora justru terletak pada kemampuan mempertemukan orang-orang dengan latar belakang dan selera yang berbeda. Festival ini dinilai bukan sekadar tempat menikmati pertunjukan musik, tetapi juga ruang sosial tempat berbagai generasi bertemu.

Apresiasi juga disampaikan kepada Kiki Ucup Aulia dan Bozz Creator sebagai penyelenggara Pestapora. Menyatukan begitu banyak musisi dan genre dalam satu festival dinilai bukan pekerjaan sederhana, terlebih ketika setiap panggung harus memiliki daya tarik tersendiri agar penonton memiliki alasan untuk datang dan bertahan.

Pengalaman penonton juga menunjukkan bahwa daya tarik Pestapora tidak hanya dirasakan masyarakat Indonesia. Festival tersebut turut menjadi ruang pertemuan bagi pengunjung dari negara-negara ASEAN, termasuk Malaysia dan Singapura.

Pada akhirnya, D2 Pestapora 2026 meninggalkan pengalaman yang lebih dari sekadar rangkaian konser. Di tengah lautan manusia, perebutan posisi terbaik, dan dilema memilih panggung, festival tersebut memperlihatkan bagaimana musik dapat mempertemukan generasi, genre, dan latar belakang yang berbeda dalam satu ruang.

“Semoga Pestapora terus tumbuh menjadi ruang perayaan musik yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mempertemukan, menginspirasi, dan menyatukan banyak orang,” ujar Neneng. (ayb)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Persembahan Cinta Ratu Goyang Ngebor untuk Sang Suami di Pestapora

BRIEF.ID - Dengan nuansa outfit gold , Inul Daratista...

Kenangan Rini A. Djaffar untuk Guruh Soekarnoputra: Disiplin, Karya, dan Cinta pada Seni Budaya

BRIEF.ID - Kepergian Guruh Soekarnoputra meninggalkan kenangan mendalam bagi...

Daya Magis Sheila On 7 dan Orkestra Energi Pestapora Day 2

BRIEF.ID – Waktu menunjukkan pukul 22:00 WIB, namun energi...

Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun, Sempat Dirawat Insentif di RS Siloam

BRIEF.ID - Guruh Soekarnoputra, seniman sekaligus politisi Partai Demokrasi...