IHSG Diperkirakan Bergerak Terbatas

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (31/3/2026) diperkirakan bergerak di kisaran  7.000-7.200.

Riset Phintraco Sekuritas dalam risetnya menyebutkan, IHSG akan bergerak pada resistance 7.200, pivot  7.100, dan support  7.000. Saham-saham yang diunggulkan adalah BUMI, DEWA, MAPI, MBMA, dan SMDR.

“Secara teknikal, pembentukan histogram MACD cenderung sideways sehingga IHSG diperkirakan bergerak di kisaran  7.000 – 7.200 pada perdagangan Selasa (31/3/2026),” demikian riset Phintraco Sekuritas.

IHSG ditutup melemah terbatas di level 7.091,67 atau melemah 0,076%  pada perdagangan Senin (30/3/2026). Saham sektor energi membukukan penguatan terbesar yaitu naik  2,18%, seiring  berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung.

Saham sektor keuangan mencatatkan pelemahan terbesar yaitu sebesar  1,17%, yang dikontribusikan  pelemahan saham BBCA karena memasuki ex date dividend serta koreksi saham perbankan lainnya di tengah kekhawatiran atas prospek ekonomi.

Pemerintah sedang merancang skema efisiensi anggaran hingga work from home (WFH) sebagai langkah mitigasi untuk meminimalisasi  dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap APBN dan ekonomi nasional.

Pemerintah mengidentifikasi ada tiga sektor yang rentan terdampak, yaitu stabilitas energi, rantai pasok global, dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Beberapa langkah untuk menekan impor migas adalah melalui penghematan energi dan penguatan mandat Biodiesel 50% (B50). Pemerintah juga berencana mengumumkan secara resmi kebijakan yang ditempuh pada Selasa (31/3/2026).

Rencana kebijakan pemerintah ini adalah sebagai upaya untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi yang akan berdampak luas terhadap inflasi serta opsi agar tidak terjadi pelebaran defisit APBN. Namun untuk BBM non subsidi berpotensi akan mengalami kenaikan pada saat penyesuaian harga bahan bakar bulanan di umumkan di 1 April 2026.

Kondisi ini berpotensi menjadi faktor positif bagi ekosistem kendaraan listrik dalam jangka menengah panjang, termasuk nikel dan tembaga.

Sementara itu, Pemerintah belum memberikan kepastian mengenai pemberlakukan bea keluar terhadap ekspor batu bara, meskipun sudah masuk dalam asumsi penerimaan APBN 2026. Sedangkan bea keluar produk turunan nikel sudah mendapat persetujuan dari Presiden Prabowo, namun juga belum ditentukan kapan pelaksanaannya. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

PM Jepang Sanae Takaichi Dijadwalkan Kunjungi Korea Selatan

BRIEF.ID – Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi dijadwalkan...

Iran Sita Kapal Milik Tiongkok di Selat Hormuz

BRIEF.ID – Iran telah menyita sebuah kapal pendukung milik...

Melintas di Selat Hormuz, Iran Patok Pembayaran Gunakan Bitcoin

BRIEF.ID – Pemerintah Iran telah menyiapkan mekanisme pembayaran untuk...

Tiongkok – AS Sepakat Membentuk Dewan Perdagangan dan Investasi

BRIEF.ID – Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Amerika...