BRIEF.ID – Iran telah menyita sebuah kapal pendukung milik perusahaan keamanan maritim Tiongkok di dekat Selat Hormuz, demikian dilaporkan Wall Street Journal, Sabtu (16/5/2026).
Insiden ini menandai penyitaan pertama yang diketahui terhadap kapal keamanan swasta sejak dimulainya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, pada akhir Februari 2026. Diberitakan pula Iran membatasi izin transit bagi entitas yang terkait dengan Beijing.
Kapal yang menjadi sasaran adalah Hui Chuan berbendera Honduras, dimiliki oleh Sinoguards Marine Security yang terdaftar di Hong Kong.
Berdasarkan pernyataan perusahaan, otoritas Iran menahan kapal tersebut pada Kamis (15/5/2026), meminta “inspeksi dokumentasi dan kepatuhan oleh otoritas terkait” sebelum mengawalnya masuk ke perairan Iran.
Kapal itu sempat berlabuh 38 mil laut di timur laut Fujairah, Persatuan Emirat Arab (PEA). Di kawasan ini, regulasi senjata pelabuhan yang ketat mengharuskan perusahaan keamanan swasta untuk menyimpan senjata di lepas pantai pada gudang senjata terapung.
Pendiri Sinoguards, Mario Yun Zhou menolak berkomentar mengenai apakah Hui Chuan sedang beroperasi sebagai gudang senjata terapung pada saat penyitaan, dan hanya menyatakan bahwa perusahaan beroperasi berdasarkan “otorisasi negara bendera yang berlaku dan persyaratan regulasi yang relevan dengan lingkup operasionalnya.”
Penyitaan ini terjadi bersamaan dengan dimulainya pertemuan diplomatik di Beijing antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping, di mana keamanan regional dan tekanan internasional terhadap Iran menjadi agenda utama bilateral.
Setelah pembicaraan selesai, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan yang mengonfirmasi bahwa Trump dan Xi sepakat bahwa “Selat Hormuz harus tetap menjadi jalur air yang bebas dan Iran tidak seharusnya dapat memungut bayaran atas penggunaan jalur pelayaran.” (nov)


