BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bertahan di level 6.000 seiring saham-saham sektor properti melesat harganya.
Pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (16/7/2026), IHSG ditutup menguat 0,37% atau 22,49 poin di level 6.604. Sebelumnya, IHSG dibuka menguat 0,24% atau 14,78 poin ke posisi 6.056 di awal perdagangan.
Sepanjang 3 jam sesi I perdagangan berlangsung, IHSG bergerak lebih banyak di zona hijau, dengan menyentuh level tertinggi di 6.067, dan level terendak di 6.024.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 330 saham naik harga, 250 saham turun harga, dan 207 saham tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Sementara volume saham yang ditransaksikan pada sesi I perdagangan mencapai 18,883 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.450.198 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp7,575 triliun.
IHSG bertahan di zona hijau ditopang saham-saham sektor properti yang melesat harganya seiring aksi borong investor, antara lain PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA).
Harga SSIA melonjak 15,58% atau Rp240 menjadi Rp1.780 per lembar, LPKR melesat 5,00% atau Rp3 menjadi Rp63 per lembar, CTRA menguat 2,68% atau Rp15 menjadi Rp575 per lembar, dan SMRA naik 2,07% atau Rp6 menjadi Rp296 per lembar.
Sementara saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), turut menopang penguatan IHSG, antara lain PT Astra International Tbk (ASII), yang naik 1,44% atau Rp79 menjadi Rp4.920 per lembar, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), yang turun 1,67% atau Rp70 menjadi Rp4.270 per lembar.
Penguatan IHSG ditopang sentimen positif dari dalam negeri, seiring intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas rupiah terhadap dolar AS, termasuk di pasar offshore atau Non-Deliverable Forward (NDF).
Selain itu, sentimen positif juga datang dari rilis inflasi Amerika Serikat (AS) yang melandai. Mengutip Anadolu, inflasi konsumen tahunan AS melambat menjadi 3,5 persen pada Juni 2026 yang di bawah ekspektasi pasar karena penurunan tajam harga energi mendorong penurunan bulanan terbesar sejak April 2020. Tingkat inflasi tahunan melambat dari 4,2 persen pada Mei 2026.
Hal ini memperkuat spekulasi bahwa Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga acuan dalam rapat pada akhir bulan ini.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi bertahan di level 6.000, dan bergerak di ksiaran level support 6.000 hingga level resistance 6.100. (jea)


