Harga Minyak Stabil, Harapan Pembukaan Selat Hormuz Memudar

BRIEF.ID – Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan di pasar Asia, Selasa (11/8/2026) setelah melonjak lebih dari 5% di sesi sebelumnya. Penguatan dipicu memudarnya harapan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Oktober naik 0,2% menjadi US$ 87,92 per barel pada pukul  02.19 GMT atau pukul 09.19 WIB. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,27% menjadi US$82,35 per barel.

Pada perdagangan Senin (10/8/2026), kontrak Brent dan WTI masing-masing ditutup naik lebih dari 5%. Lonjakan terjadi setelah AS dan Iran sama-sama mengajukan tuntutan kompensasi terkait serangan militer terbaru, sehingga mengurangi ekspektasi tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Ketegangan semakin meningkat setelah Washington dan Teheran menyampaikan klaim  bertentangan mengenai kondisi jalur pelayaran strategis itu. AS menyatakan Selat Hormuz masih terbuka, sedangkan Iran mengklaim telah menutup jalur tersebut menggunakan ranjau dan pesawat nirawak (drone).

Presiden AS Donald Trump pada Senin menuntut Iran membayar kompensasi atas korban jiwa dalam konflik terbaru. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap tuntutan kompensasi yang sebelumnya diajukan Teheran.

Situasi tersebut terjadi setelah sebelumnya otoritas AS menyatakan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz sudah semakin dekat. Pernyataan itu sempat mendorong harga minyak turun tajam pada pekan lalu.

Iran menyatakan hampir mencapai kesepakatan final dengan Oman untuk menetapkan rute pelayaran baru melalui Selat Hormuz. Namun, Teheran menegaskan bahwa AS harus memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk pembayaran kompensasi dan pencabutan seluruh sanksi, sebelum jalur tersebut dapat dibuka kembali.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Ketidakpastian mengenai akses pelayaran di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan pasokan dan menjaga harga minyak tetap volatil.

Investor kini mencermati perkembangan hubungan AS-Iran serta kondisi lalu lintas kapal di Selat Hormuz sebagai katalis utama pergerakan harga minyak dalam jangka pendek. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Nyaris Terhempas dari Level 6.300

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Kuartal II-2026, Ekonomi Singapura Tumbuh 5,9%  

BRIEF.ID – Ekonomi Singapura tumbuh lebih cepat dari perkiraan...

Pasar Saham Asia Bergerak Variatif, Bursa Korea Menguat dan Tiongkok Melemah

BRIEF.ID – Pasar saham Asia bergerak variatif pada perdagangan...

Rupiah Melemah ke Level Rp17.800 Imbas Ketidakpastian Pembukaan Selat Hormuz

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah melemah ke level...