BRIEF.ID – Harga minyak dunia naik lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (11/8/2026) setelah pemerintah Iran menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum Amerika Serikat (AS) memenuhi tuntutan Teheran.
Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran investor terhadap pasokan energi global. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia sehingga gangguan berkepanjangan dapat memperketat pasokan dan mendorong harga minyak lebih tinggi.
Harga minyak Brent untuk pengiriman Oktober naik 1,1% menjadi US$ 88,66 per barel, setelah sempat menyentuh US$ 90,03. Sementara itu, minyak WTI untuk pengiriman September menguat 1% menjadi US$ 82,96 per barel.
Sebelumnya pasar berharap adanya kemajuan diplomatik yang dapat membuka kembali Selat Hormuz. Namun, harapan tersebut kembali meredup setelah Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington dan menyatakan komunikasi hanya berlangsung dengan Oman.
Pemerintah AS juga menaikkan perkiraan kehilangan produksi minyak mentah dari kawasan Timur Tengah akibat terganggunya lalu lintas di Selat Hormuz. Proyeksi harga minyak mentah turut dinaikkan.
Ketidakpastian mengenai status selat tersebut semakin menambah volatilitas pasar. AS menyatakan jalur tersebut terbuka bagi pelayaran komersial, sementara Iran memperingatkan bahwa kondisi di lapangan masih membuat akses praktis sangat terbatas.
Harga minyak telah melonjak sekitar 5% pada perdagangan Senin. Investor kini menunggu perkembangan diplomatik berikutnya karena semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar risiko kenaikan harga minyak, tekanan inflasi, dan dampaknya terhadap pasar keuangan global. (nov)


