BRIEF.ID – Pasar keuangan global ditutup melemah pada perdagangan Rabu (29/7/2026) seiring lonjakan harga minyak dan aksi jual di saham-saham teknologi, khususnya sektor kecerdasan buatan (AI), yang membebani kinerja bursa saham Amerika Serikat (AS). Ketidakpastian mengenai langkah lanjutan Federal Reserve (The Fed) mengendalikan inflasi juga turut menekan sentimen investor.
Indeks S&P 500 turun 1,5% setelah bergerak volatil sepanjang sesi perdagangan. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average anjlok 1.153 poin atau 2,2%, sedangkan Nasdaq Composite melemah 1,7%, sehingga kini berada sekitar 9,8% di bawah rekor tertinggi yang dicapai bulan lalu.
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent melonjak 7,3% menjadi US$ 88,09 per barel. Kenaikan tajam dipicu kembali memanasnya konflik yang melibatkan Iran, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
Sepanjang bulan ini, harga Brent bergerak sangat fluktuatif, sempat turun hingga sekitar US$ 72 per barel sebelum melonjak ke kisaran US$ 102 per barel pada pekan lalu. Pergerakan ini mencerminkan tingginya ketidakpastian mengenai prospek tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran yang dapat menjamin kelancaran jalur pengiriman minyak dari Timur Tengah ke pasar global.
Selain faktor geopolitik, pelemahan saham-saham teknologi, terutama yang terkait sektor AI, semakin memperburuk sentimen di Wall Street. Investor juga masih menunggu arah kebijakan Federal Reserve terkait suku bunga di tengah inflasi yang tetap tinggi, yang berpotensi memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi dan kinerja pasar saham dalam beberapa bulan mendatang. (AP/nov)


