BRIEF.ID – Harga minyak mentah Brent ditutup melemah pada perdagangan Rabu (26/8/2026), berada di kisaran US$87 per barel. Penurunan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya optimisme pasar terhadap kemungkinan meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pasar minyak dunia diperkirakan tetap sensitif terhadap setiap informasi mengenai Selat Hormuz, pasokan global, dan kebijakan negara-negara produsen minyak.
Di London ICE, harga Brent dilaporkan turun US$1,58 dan menetap di level sekitar US$87 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun US$1,53 menjadi sekitar US$80,83 per barel.
Tekanan terhadap harga minyak salah satunya berasal dari perkembangan diplomatik antara Iran dan Oman yang meningkatkan harapan pasar terhadap terbukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan energi global sehingga perkembangan terkait keamanan dan kelancaran lalu lintas kapal sangat diperhatikan investor.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati kondisi persediaan minyak Amerika Serikat. Data yang dirilis pada Rabu menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat untuk pekan keempat berturut-turut, meskipun kenaikannya relatif kecil. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap harga minyak.
Harga minyak Brent sempat bergerak lebih rendah selama perdagangan sebelum kembali menguat dari titik terendah. Data pasar menunjukkan Brent sempat berada di sekitar US$86 per barel sebelum akhirnya bergerak kembali mendekati US$87 per barel.
Penurunan harga minyak menjadi perhatian bagi pasar keuangan karena harga energi memiliki kaitan erat dengan inflasi global. Harga minyak yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan biaya energi dan memberikan ruang bagi investor untuk kembali memperhatikan prospek pertumbuhan ekonomi serta kebijakan suku bunga bank sentral.
Pergerakan harga minyak global bagi pasar Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati karena dapat mempengaruhi sentimen saham sektor energi, nilai tukar Rupiah, inflasi, serta ekspektasi investor terhadap kondisi ekonomi nasional. (nov)


