Harga Emas Menguat Tipis, Investor Cermati Arah Suku Bunga The Fed

BRIEF.ID – Harga emas dunia ditutup menguat tipis pada perdagangan Senin (3/8/2026) seiring meredanya kekhawatiran pasar setelah harga minyak turun. Namun, kenaikan logam mulia itu masih terbatas karena investor tetap berhati-hati menantikan data ketenagakerjaan Amerika Serikat  (AS), yang diperkirakan akan memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Harga emas spot naik 0,3% menjadi US$ 4.055,25 per troy ons, sedangkan kontrak emas berjangka menguat 0,1% ke US$ 4.111,05 per ons.

Sentimen pasar membaik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan mengisyaratkan dimulainya perundingan dengan Teheran.

Namun, optimisme itu tidak bertahan lama setelah Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Washington. Perbedaan pernyataan kedua pihak kembali memunculkan ketidakpastian mengenai prospek penyelesaian konflik dan pembukaan penuh Selat Hormuz.

Di sisi lain, pelaku pasar juga masih mencermati hasil rapat  The Fed pekan lalu, yang memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Keputusan itu tidak diambil secara bulat. Tiga presiden bank sentral regional menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, mencerminkan masih kuatnya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi pers setelah rapat kebijakan juga belum mampu meyakinkan pasar bahwa inflasi telah sepenuhnya terkendali. Sikap yang relatif hawkish  bank sentral AS  membuat ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat kembali berkurang.

Analis menilai kondisi itu masih menjadi faktor pembatas bagi penguatan harga emas. Secara teknikal, harga emas spot masih bergerak di bawah rata-rata pergerakan utama (SMA) 50 hari, 100 hari, dan 200 hari, sehingga tren jangka pendek masih cenderung bearish dan potensi reli diperkirakan tetap terbatas.

Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), sehingga periode suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tariknya dibandingkan instrumen investasi yang menawarkan bunga, seperti obligasi. (Investing.com/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Harga Bitcoin US$ 63.711, Pasca Peretasan Coldcard Guncang Pasar Kripto

BRIEF.ID – Harga Bitcoin menguat tipis pada perdagangan Senin...

Qantas Lepas Kepemilikan di Jetstar Japan Senilai US$ 52 Juta

BRIEF.ID – Maskapai penerbangan Qantas Airways mengumumkan telah menandatangani...

Intervensi Bersama AS Dinilai Belum Cukup, Jepang Perangi Spekulan Yen

BRIEF.ID – Pemerintah Jepang terus berupaya menahan pelemahan nilai...

IHSG Berpotensi Rebound, Sentimen Global Hadirkan Angin Segar

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan...