BRIEF.ID – Harga emas melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (12/8/2026), mendekati level US$4.400 per troy ons. Investor menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) untuk mendapatkan petunjuk terbaru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Mengacu pada data perdagangan pukul 07.22 GMT atau 13.22 WIB, harga emas spot naik 0,7% menjadi US$4.400,02 per troy ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas menguat 0,4% menjadi US$4.459,30 per troy ons.
Penguatan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak naik 1,8% menjadi US$65,88 per troy ons, sedangkan platinum meningkat 0,7% menjadi US$1.755,16 per troy ons.
Emas masih bertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan seiring investor mencermati perkembangan diplomasi terkait upaya pembukaan kembali Selat Hormuz. Menteri Pertahanan Pakistan menyebut AS dan Iran semakin dekat dengan kesepakatan, sementara pembicaraan lanjutan antara Oman dan Iran menunjukkan upaya diplomatik masih berlangsung.
Namun, Iran menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka sebelum sejumlah tuntutan dipenuhi, termasuk pencabutan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan kompensasi atas kerusakan akibat serangan militer AS.
Situasi ini meningkatkan ketidakpastian di pasar energi. Gangguan terhadap jalur pelayaran strategis di kawasan Timur Tengah berpotensi memengaruhi pasokan dan harga minyak global, sekaligus meningkatkan risiko inflasi.
Bagi pasar emas, perkembangan inflasi AS menjadi perhatian utama. Harga energi yang lebih tinggi dapat memperbesar tekanan inflasi dan membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama cenderung menjadi tekanan bagi emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Sebaliknya, apabila inflasi AS menunjukkan tanda-tanda mereda, ekspektasi penurunan suku bunga dapat kembali menguat dan memberikan katalis positif bagi harga emas. (Investing.com/nov)


