Gelombang Panas Kejutkan Industri Mode Eropa

BRIEF.ID – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada akhir Juni 2026, sangat mempengaruhi penyelenggaraan Fashion Week di sejumlah kota. Suhu yang mendekati atau bahkan melampaui 35-40° Celcius membuat para model, penata gaya, dan kru menghadapi kondisi kerja yang jauh lebih berat dari biasanya.

“Sejujurnya saya pikir saya akan pingsan,” kata Ben Freeman, seorang kritikus mode asal Australia yang berbasis di London dikutip dari Associated Press, Minggu (28/6/2026).

Ironisnya, banyak koleksi yang ditampilkan merupakan busana musim gugur dan musim dingin (Autumn/Winter), sehingga para model tetap harus mengenakan mantel wol tebal, jaket berbulu, syal, dan pakaian berlapis meski berjalan di bawah terik matahari.

Kondisi itu menyebabkan beberapa model harus sering beristirahat, minum lebih banyak air, dan menjalani pemeriksaan kesehatan ringan di belakang panggung.

Penyelenggara peragaan busana kemudian mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi risiko akibat cuaca panas, antara lain  menyediakan area berpendingin udara bagi model dan kru; menambah pasokan air minum dan minuman elektrolit; dan memasang kipas serta sistem pendingin di area belakang panggung.

Bahkan, penyelenggara Fashion Week terpaksa menyesuaikan jadwal pertunjukan agar tidak seluruhnya berlangsung pada siang hari.

Fenomena ini kembali memunculkan perdebatan di industri mode mengenai perlunya menyesuaikan jadwal dan konsep peragaan busana dengan perubahan iklim.

Sejumlah desainer dan pengamat menilai bahwa cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi dapat mendorong industri untuk mempertimbangkan bahan yang lebih ringan, lokasi pertunjukan yang lebih teduh, atau penjadwalan yang lebih fleksibel.

Di Paris Fashion Week, rumah mode mendinginkan para penonton, lalu mendandani model mereka dengan pakaian yang tidak sesuai musim, seperti kulit, neoprena, wol, dan bulu.

“Kalendernya tidak masuk akal,” akui Jonathan Anderson dari Dior, menyalahkan siklus pengiriman yang terfragmentasi dan bisnis yang tidak berhubungan dengan musim di luar.

Beberapa orang di barisan depan menyarankan agar Fashion Week di bulan-bulan terpanas dibatalkan.

“Di Paris, kami tidak memiliki AC di mana-mana, itu cukup langka. Saya tidak tahu bagaimana para model melakukannya minggu ini dengan beberapa mantel kulit dan rajutan,”  kata Thomas Levy, 24, seorang mahasiswa mode.  

Gelombang panas tahun ini tidak hanya berdampak pada dunia mode, tetapi juga mengganggu berbagai aktivitas di Eropa, mulai dari sektor pariwisata, olahraga, hingga transportasi.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perubahan pola cuaca kini memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk industri kreatif yang selama ini sangat bergantung pada penyelenggaraan acara di ruang terbuka. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Prabowo Ingin Biaya Haji 2027 Lebih Murah dan Antrean Turun Jadi 14 Tahun

BRIED.ID – Presiden Prabowo Subianto meminta Kementerian Haji dan...

Penyelenggaraan Ibadah Haji, Pemerintah Temukan 400 Ribu Data Jemaah Tak Valid

BRIEF.ID - Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan audit forensik...

Pelatihan PMI Batch 2 2026, Lulusan SMK hingga S2 Bisa Daftar Tanpa Kartu Kuning

BRIEF.ID – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) membuka...

Skenario Timnas Indonesia Lolos Final FIFA ASEAN Cup 2026 Jelang Lawan Malaysia

BRIEF.ID – Tim Nasional Indonesia menjaga peluang melaju ke...