Defisit Anggaran AS Juli 2026 Melebar Menjadi US$ 1,8 Triliun  

BRIEF.ID – Defisit anggaran pemerintah Amerika Serikat (AS) mencapai US$432,3 miliar pada Juli 2026, sehingga total defisit selama 10 bulan pertama tahun fiskal 2026 menembus angka US$1,8 triliun.

Berdasarkan laporan bulanan Departemen Keuangan AS, defisit Juli melonjak dibandingkan US$291,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pelebaran defisit terjadi karena belanja pemerintah meningkat signifikan, sementara penerimaan relatif stabil. Penerimaan pemerintah pada Juli mencapai US$334 miliar, sedangkan belanja mencapai US$766,3 miliar.

Secara kumulatif hingga Juli, penerimaan pemerintah mencapai US$ 4,49 triliun, meningkat dari US$4,35 triliun pada periode yang sama tahun fiskal sebelumnya. Namun, belanja meningkat lebih besar menjadi US$6,28 triliun dari US$5,98 triliun.

Dengan demikian, defisit kumulatif mencapai US$1,799 triliun, meningkat dari US$1,629 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi penerimaan, pajak penghasilan perorangan menjadi sumber terbesar dengan kontribusi US$2,37 triliun. Penerimaan dari asuransi sosial dan pensiun mencapai US$1,52 triliun, disusul pajak penghasilan badan US$292,9 miliar dan bea cukai US$154,5 miliar.

Sementara itu, belanja pemerintah terbesar dialokasikan untuk Social Security sebesar US$1,38 triliun. Pos berikutnya adalah Medicare US$955 miliar, pembayaran bunga bersih utang federal US$931 miliar, program kesehatan US$845 miliar, dan pertahanan nasional US$804 miliar.

Departemen Keuangan AS menyebut Juli biasanya menjadi bulan dengan defisit karena relatif sedikit tenggat pembayaran pajak utama dari perusahaan maupun individu.

Selain itu, sejumlah pembayaran pemerintah dimajukan ke Juli karena 1 Agustus jatuh pada hari libur. Pembayaran tersebut mencakup gaji dan tunjangan pensiun militer, tunjangan veteran, Supplemental Security Income (SSI), serta pembayaran Medicare tertentu.

Pelebaran defisit AS menjadi perhatian pasar karena meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah dapat memengaruhi penerbitan surat utang, imbal hasil (yield) Treasury, serta kondisi likuiditas di pasar keuangan global. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Investor Nantikan Pidato Kenegaraan Prabowo dan RAPBN 2027

BRIEF.ID – Investor akan mencermati Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo...

Optimisme Investor Meningkat, IHSG Berpotensi Menguat

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan...

Harga Minyak Fluktuatif di Tengah Perebutan Kendali Selat Hormuz

BRIEF.ID – Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada perdagangan...

Wall Street Ditutup Menguat, Inflasi AS Sesuai Ekspektasi

BRIEF.ID – Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street,...