Bursa Saham Eropa Menguat, Inflasi AS Redam Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

BRIEF.ID – Bursa saham Eropa  menguat pada perdagangan Kamis (13/8/2026), didorong sentimen risk-on setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) sesuai dengan ekspektasi pasar. Kondisi tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga pada September.

Indeks Stoxx Europe 600 naik 0,2% dan melanjutkan pergerakan menuju level tertinggi sepanjang masa. Penguatan terjadi di sejumlah bursa utama Eropa. Indeks DAX Jerman dan CAC 40 Prancis masing-masing naik 0,3%, sedangkan FTSE 100 London menguat 0,6%.

FTSE 100 juga mendapat dukungan dari data ekonomi Inggris yang menunjukkan pertumbuhan domestik lebih baik dari perkiraan.

Sentimen positif investor Eropa, terutama berasal dari laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) AS Juli yang dirilis Rabu (12/8/2026). IHK utama AS naik 0,1% secara bulanan, sedangkan inflasi inti berada di level 2,5% secara tahunan.

Data tersebut menjadi perhatian pasar setelah laporan ketenagakerjaan AS pekan lalu menunjukkan pelemahan yang mengejutkan. Kombinasi inflasi yang sesuai ekspektasi dan pasar tenaga kerja yang melemah meredakan kekhawatiran terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh The Fed.

Pasar uang kemudian menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga AS. Peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan 16 September diperkirakan sekitar 40%, turun tajam dari hampir 67% sepekan sebelumnya.

Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga memberikan ruang bagi pasar saham global untuk menguat, sekaligus meredakan kekhawatiran investor terhadap tingginya biaya pembiayaan.

Kepala Wawasan Pasar Lloyd’s Bank, Sam Hill, menilai data IHK AS Juli tidak memberikan kejutan bagi pasar. Menurutnya, data tersebut justru menjadi konfirmasi terhadap tanda-tanda perlambatan inflasi yang terlihat sebelumnya dan memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertimbangkan kebijakan yang lebih longgar.

“Sulit untuk membayangkan adanya kenaikan suku bunga pada September berdasarkan data tersebut,” kata Hill.

Investor selanjutnya akan mencermati data ekonomi AS lainnya, termasuk indeks harga produsen (PPI), untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap mengenai tekanan inflasi dan arah kebijakan The Fed. (Investing.com/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Hujan Meteor Perseid Hiasi Langit Indonesia

BRIEF.ID – Langit Indonesia dihiasi fenomena astronomi Hujan Meteor...

Tarif Transportasi Jakarta Rp 8 pada 17 Agustus 2026

BRIEF.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta merevisi tarif...

IHSG Ditutup Melemah, Rupiah Menguat

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan...

Prabowo Ingatkan Pembangunan Tak Boleh Hanya Kejar Proyek Besar

BRIEF.ID - Presiden Prabowo Subianto mengingatkan jajarannya agar seluruh...