BRIEF.ID – Sepak bola Indonesia tidak lagi semata-mata dipandang sebagai industri olahraga mengingat di balik pertandingan dan kerumunan suporter di stadion, terdapat perputaran ekonomi yang melibatkan penjualan tiket, makanan dan minuman, merchandise, transportasi hingga aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Hery Gunardi melihat potensi tersebut sebagai salah satu alasan perseroan melanjutkan keterlibatannya dalam kompetisi sepak bola nasional.
Hery mengatakan bahwa nilai ekonomi yang berputar dalam satu musim kompetisi bahkan diperkirakan mencapai lebih dari Rp10 triliun.
Menurutnya, pertama kali menjadi sponsor Liga Indonesia pada 2021, memasuki musim keenam, kerja sama tersebut dinilai telah berkembang dari sekadar aktivitas branding menjadi kolaborasi yang diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi di sekitar sepak bola.
“Kalau dulu kan awal-awalnya sama-sama belum mengerti, mungkin liga juga berbenah, BRI juga belum terlalu paham gimana membangun kolaborasi ini. Dulu pertama sekali itu lebih kepada branding dan exposure. Tapi sekarang ke sini sudah jauh lebih maju kolaborasinya, antara lain adalah kita membangun ekosistem bersama,” tuturnya di Jakarta, Kamis (3/9).
Menurutnya, besarnya jumlah pertandingan dan penonton membuat sepak bola memiliki efek ekonomi yang cukup luas. Tahun lalu, contohnya, kata Hery, jumlah penonton yang datang langsung ke stadion disebut hampir mencapai 2 juta orang, sementara penonton melalui televisi mencapai hampir 5 juta.
Dia berpandangan potensi ekonomi itu tidak hanya berasal dari aktivitas yang terjadi selama pertandingan. Mobilitas suporter menuju stadion juga telah menciptakan permintaan terhadap berbagai barang dan jasa, mulai dari transportasi hingga kebutuhan konsumsi.
“Masalah bola itu bukan hanya masalah dalam stadion tapi juga yang di luarnya. Orang beli tiket, minum, makan, transportasi, datang ke stadion. Nah, ini menggerakkan UMKM,” katanya.
Menurut Hery, keterlibatan dalam sepak bola memiliki relevansi langsung dengan fokus bisnis perseroan yang selama ini menyasar sektor UMKM.
Nasabah BRI yang menjalankan usaha di sekitar stadion, misalnya, berpotensi mendapatkan tambahan permintaan ketika pertandingan berlangsung.
“Bank Rakyat Indonesia sebagai bank yang memang fokus ke UMKM tentunya kita senang. Jadi inline lah dengan tagline-nya kita dan juga bisnis kita,” ujar Hery.
Ekosistem tersebut, menurut Hery dapat mencakup berbagai jenis usaha seperti pelaku UMKM dapat menyediakan makanan dan minuman, menjual merchandise atau jersey, hingga terlibat dalam layanan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pertandingan dan penjualan tiket.
Untuk itu, BRI tidak hanya melihat nilai komersial dari hak sponsorship, tetapi juga peluang memperluas aktivitas ekonomi nasabahnya melalui industri sepak bola.
Meski demikian, klaim mengenai potensi perputaran ekonomi hingga lebih dari Rp10 triliun tetap perlu dilihat lebih jauh. Besarnya nilai ekonomi industri sepak bola tidak otomatis berarti seluruh pelaku UMKM memperoleh manfaat yang sama.
Distribusi manfaat kepada pedagang kecil, pelaku usaha lokal dan masyarakat di sekitar stadion menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur dampak riilnya.
Hery juga berharap kompetisi Super League dikelola secara profesional sehingga jumlah penonton dan transaksi di sekitar pertandingan terus meningkat. Semakin besar animo masyarakat, semakin besar pula potensi belanja yang masuk ke ekosistem ekonomi sepak bola.
“Artinya makin banyak penonton yang datang, makin banyak yang membeli tiket, makin banyak yang suka sepak bola Indonesia, sebetulnya itu bagus buat putaran ekonomi juga,” tuturnya.
Menurutnya, ketika penonton datang ke stadion, pengeluaran mereka tidak berhenti pada pembelian tiket. “Penonton juga membelanjakan uang untuk jersey, merchandise, makanan, minuman, transportasi dan kebutuhan lainnya,” tutup Hery. (ayb)


