The Fed Tahan Suku Bunga Gara-Gara Konflik Timur Tengah Picu Ketidakpastian Tinggi

BRIEF.ID – Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) di kisaran 3,5% hingga 3,75%.

Gubernur The Fed, Jerome Powell menyampaikan keputusan tersebut, merupakan keputusan Komite Pengambil Kebijakan atau Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed, setelah melakukan rapat selama dua hari, pada 28-29 April 2026.

“Kami sepakat untuk mempertahankan FFR di kisaran 3,5%-3,75%, karena melihat dinamika konflik Timur Tengah yang memicu ketidakpastian semakin tinggi, dan berpotensi meningkatkan inflasi,” kata Jerome Powell, seusai rapat FOMC pada Rabu (29/4/2024) malam, atau Kamis (30/4/2025) dinihari WIB.

Pernyataan Jerome Powell mempertegas kekhawatiran terkait dampak konflik Timur Tengah yang tak kunjung usai, mengingat sebelumnya The Fed menilai dampak dari konflik tersebut belum pasti.

Meskipun sepakat mempertahankan suku bunga acuan, 4 Anggota FOMC memberikan pandangan berbeda atau dissenting opinion. yang menilai The Fed harus menurunkan FFR untuk mengendalikan inflasi dan stagflasi.

Berikut beberapa poin penting keputusan The Fed, seperti dilaporkan Bloomberg, Kamis (30/4/2026):

– Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) memutuskan dengan suara 8:4 untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran target 3,5%–3,75%.

– Tiga gubernur bank regional The Fed (Beth Hammack dari Cleveland, Neel Kashkari dari Minneapolis, dan Lorie Logan dari Dallas), menyatakan penolakan terhadap keputusan tersebut. Mereka mendukung langkah mempertahankan suku bunga, namun tidak sepakat dengan pencantuman bias pelonggaran dalam pernyataan saat ini.

– Deputi Gubernur The Fed Stephen Miran juga menolak keputusan tersebut dan mendukung penurunan suku bunga sebesar seperempat poin.

– The Fed menyesuaikan pernyataannya dengan menyebut bahwa perkembangan di Timur Tengah berkontribusi pada tingkat ketidakpastian yang tinggi.

– The Fed menyatakan pertambahan lapangan kerja secara rata-rata tetap rendah” dan tingkat pengangguran “tidak banyak berubah dalam beberapa bulan terakhir.

– The Fed juga menyebut inflasi masih tinggi, sebagian mencerminkan kenaikan harga energi global baru-baru ini. (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Rupiah Anjlok Sentuh Level Rp17.384 per Dolar AS, Terendah Sepanjang Masa

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah anjlok menyentuh level...

Pemerintah Akselerasi Hunian Layak Masyarakat Berpenghasilan Rendah

BRIEF.ID – Pemerintah mengakselerasi penyediaan hunian layak bagi masyarakat...

Harga Emas Makin Loyo Imbas Keputusan The Fed Tahan Suku Bunga

BRIEF.ID - Harga emas batangan atau logam mulia makin...

Sediakan Cloud GPU Skala Besar, Argentum AI Teken Perjanjian Senilai US$ 1,5 Miliar  

BRIEF.ID – Argentum AI  menandatangani perjanjian  senilai US$ 1,5...