BRIEF.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Manado mencatat sebanyak 3.377 kejadian gempa bumi tektonik menggetarkan wilayah Sulawesi Utara (Sulut) dan sekitarnya sepanjang tahun 2025.
“Secara teknis, distribusi gempa bumi berdasarkan kedalamannya didominasi oleh aktivitas di kerak bumi bagian atas,” kata Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Manado Muhammad Zulkifli di Manado, Rabu (7/1/2026).
Gempa bumi dangkal, kata dia, terekam sebanyak 2.060 kejadian (paling dominan), gempa bumi menengah (1.283 kejadian), dan gempa bumi dalam (34 kejadian).
Dari sisi kekuatan, lanjutnya, rentang magnitudo yang tercatat bervariasi, dimulai dari yang terkecil M1,0 hingga gempa bumi terbesar yang mencapai magnitudo M7,6.
Dikutip dari Antara, disebutkan bahwa dari ribuan kejadian tersebut terdapat 87 gempa bumi yang dirasakan secara nyata oleh masyarakat di berbagai wilayah.
Berdasarkan peta seismisitas atau peta episenter, pusat aktivitas gempa bumi sepanjang tahun 2025 terkonsentrasi di tiga area utama, yakni Teluk Tomini, Laut Maluku, dan Laut Sulawesi.
“Dampak guncangan (intensitas) dirasakan secara meluas di berbagai titik di Sulawesi, Maluku Utara, hingga Kalimantan Timur,” katanya.
Beberapa wilayah dengan catatan intensitas yang signifikan antara lain di Sulawesi Utara yaitu Kota Manado (II-III MMI), Bitung, Minahasa Utara, Kotamobagu (III MMI), serta wilayah Bolaang Mongondow Raya yang cukup sering merasakan getaran.
Sementara di wilayah Gorontalo, Bone Bolango, dan Pohuwato, juga melaporkan kejadian gempa dirasakan dengan intensitas rata-rata II-III MMI.
Di Kepulauan Nusa Utara, kata dia, yaitu Melonguane (III-IV MMI), Tahuna, Naha, dan Sangihe, menjadi area yang terdampak aktivitas gempa di Laut Sulawesi dan Laut Maluku.
Di Maluku Utara, guncangan cukup kuat dirasakan di Sofifi (IV MMI), Ternate (III-IV MMI), Morotai (III-IV MMI), serta Galela dan Halmahera.
Sedangkan di Sulawesi Tengah dan Kalimantan, lanjut dia, getaran juga mencapai Toli-Toli, Buol, hingga melintas batas laut menuju Berau, Tarakan, dan Biduk-biduk di Kalimantan Timur dengan intensitas II-III MMI. (nov)


