Browsing Tag

Sunarso

News

Laba BRI Tembus Rp34,4 Triliun Pada 2019

January 23, 2020

PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) (Persero) Tbk menasbihkan diri menjadi bank dengan aset terbesar di Indonesia. Hingga akhir 2019, BRI tercatat memiliki aset sebesar Rp 1.418,95 triliun, tumbuh 9,41% dibanding tahun lalu sebesar Rp 1.296,90 triliun.

Menurut Direktur Utama BRI Sunarso, penambahan aset tersebut salah satunya ditunjang oleh laba yang dihasilkan oleh BRI sepanjang tahun 2019. Tahun 2019, BRI menghasilkan laba sebesar Rp 34,41 triliun atau tumbuh 6,15% year on year (yoy).

“Kinerja positif dan tumbuh berkelanjutan ini mampu menggerakkan profitabilitas BRI. Dengan jumlah aset yang ada, BRI menjadi bank dengan the biggest asset di Indonesia,” kata Sunarso dalam pemaparan Kinerja Keuangan Triwulan IV Tahun 2019 Bank BRI di Gedung BRI, Kamis (23/1/2020).

Sunarso juga menjelaskan bila pertumbuhan kredit mikro menjadi salah satu penyokong utama kinerja positif BRI. Bahkan penyaluran kredit pada tahun 2019 lalu di atas rata-rata industri perbankan.

“Pada tahun 2019 tercatat kredit BRI mencapai Rp 915,69 triliun atau tumbuh 8,44% yoy. Ini di atas rata-rata industri perbankan yang berada di angka 6,08%. Salah satu faktor utama pendukung pertumbuhan kredit yaitu penyaluran kredit mikro yang tumbuh hingga 12,19%. Sementara porsi mikro mencapai 35,8%, yang mana di tahun 2020 kita menargetkan tembus ke angka 40%,” papar Sunarso.

“Kami akan mengembangkan kredit mikro BRI menjadi go smaller, go shorter dan go faster,” sambungnya.

Pada sisi Dana Pihak Ketiga (DPK) di tahun 2019, BRI mampu menembus angka lebih dari Rp 1.000 triliun, tepatnya Rp 1.021,39 triliun naik 8,23% yoy. Untuk dana murah (CASA) masih mendominasi portofolio simpanan BRI mencapai 57,7% dari total DPK atau senilai Rp 589,96 triliun.

“Tahun 2020 ini kita akan fokus menggarap CASA untuk mengoptimalkan pertumbuhan dana melalui transaction banking di perkotaan maupun melalui micro saving dan micro payment di segmen mikro,” ucap Sunarso.

Sunarso juga mengapresiasi agen BRILink, yang disebutnya menjadi dampak secara nyata bagi Bank BRI khususnya pada sisi Fee Based Income (FBI). BRILink sendiri memiliki 422 ribu agen dengan transaksi mencapai 521 juta kali.

“Secara volume transaksi melalui agen BRILink mencapai Rp 673 triliun atau tumbuh 31,2% yoy. FBI yang dihasilkan oleh agen BRILink mencapai Rp 788,7 miliar atau tumbuh 75% yoy,” pungkasnya.

News

BRI akan jadi Fintech?

September 2, 2019

Jakarta — Kabar yang mengejutkan datang dari Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Sunarso, hari ini setelah RUSPLB BRI ia mengatakan bahwa untuk menghadapi persaingan dengan perusahaan-perusahaan fintech yang belakangan mengisi pasar, BRI akan memiliki fintech dan bertindak seperti fintech.

“Ya memang arahnya ke sana (kompetisi dengan fintech). Kita bersaing dengan fintech di pasar, kita juga bisa bikin fintech. Kita juga bisa miliki fintech melalui anak usaha atau kolaborasi dan kerja sama operasi dalam bentuk kerja sama yang bisa kita lakukan dengan fintech,” ujarnya setelah RUPSLB BRI yang berlangsung di Jakarta hari ini.

Sebagai informasi, pada Februari 2019 yang lalu, BRI melalui BRI Agro meluncurkan layanan keuangan PINANG atau Pinjaman Tenang, Gampang, Senang. PINANG adalah produk digital lending BRI Agro dan sekaligus menjadi produk pinjaman bank berbasis aplikasi pertama di Indonesia. Aplikasi PINANG sudah fully digital, dengan sistem digital verification, digital scoring, dan digital signature.

Dengan mengkombinasikan teknologi digital, PINANG mempercepat proses pengajuan sampai dengan pencairan kurang dari 10 menit, dengan tenor yang fleksibel antara 1 sampai 12 bulan. Pengajuan dapat dilakukan tanpa harus ke bank dan tanpa tatap muka secara langsung. Plafon pinjaman pun dapat di top-up hingga maksimum Rp20 juta dan memiliki bunga yang terendah dibandingkan dengan layanan keuangan digital serupa.

News

Ekonom: Sunarso Layak jadi Orang Nomor Satu di BRI

September 2, 2019

Jakarta – Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) (Persero) Tbk yang digelar tanggal 2 September 2019 mengumumkan bahwa Sunarso menjabat sebagai orang nomor satu di perseroan.

Pengangkatan Sunarso menjadi orang nomor satu di BRI ini mendapatkan banyak pandangan positif dari berbagai pengamat ekonomi diantaranya Ekonom Senior Enny Sri Hartati. Menurutnya, pengangkatan mantan Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) tersebut merupakan langkah awal menuju kesuksesan.

Hal ini dikarenakan Sunarso tidak memiliki catatan negatif . Tidak hanya itu, Enny juga menjabarkan bahwa Sunarso memiliki skill yang bagus dalam mengembangkan sektor UMKM, khususnya di bidang Agrofinancing.

Sementara itu, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam menilai bahwa pemilihan Sunarso adalah hal yang tepat, karena sosoknya dapat membawa BRI ke era digital, walaupun bank masih harus melakukan kerja secara konvensional. Akan tetapi sosok Sunarso dinilai dapat menyelaraskan sistem konvensional dan digital untuk BRI dalam menghadapi era sekarang ini.

“Makanya, kita perlu orang yang berpengalaman dan ahli di bidang keuangan atau perbankan. Bisa bekerja sama dengan para milenial. Saya yakin Sunarso dipilih karena memiliki kriteria semua itu,” kata Pieter.

News

Sunarso Duduki Bangku Nomor Satu di BRI

September 2, 2019

Jakarta — Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) (Persero) Tbk yang digelar pada tanggal 2 September 2019 mengumumkan bahwa posisi Direktur Utama Bank pelat merah tersebut diduduki oleh Sunarso.

Sebelumnya, Sunarso sempat menjabat selama 1 tahun sebagai Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) sejak 2017. Kemudian di awal tahun 2019, ia ditetapkan sebagai Wakil Direktur Utama BRI oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno melalui RUPS BRI pada Januari 2019.

Desas desus Sunarso menjadi orang nomor satu di Bank Buku Satu ini telah dimulai sejak minggu lalu. Setelah RUPSLB Bank BTN (Persero) Tbk yang mengumumkan bahwa Suprajarto menjabat posisi nomor satu di Bank Buku Tiga tersebut.

Merebaknya drama penolakan Suprajarto menjadi orang nomor satu di BTN tersebut, justru membuat nama Sunarso semakin gencar menjadi kandidat yang memiliki potensi besar untuk menduduki orang nomor satu di BRI.

Akan tetapi Sunarso menjadi Direktur Utama di BRI bukan semata-mata karena aji mumpung, melainkan karena Sunarso memiliki banyak prestasi yang telah ditorehkan. Contohnya, saat dirinya menjabat sebagai Direktur Utama Pegadaian ia memulai transformasi digital di perseroan, sehingga Pegadaian yang dulu dianggap kuno menjadi kekinian seperti saat ini.

Berikut susunan pengurus baru Bank BRI:

Dewan Komisaris

  • Komisaris Utama: Andrinof A. ChaniagoWakil
  • Wakil Komisaris Utama: Wahyu Kuncoro
  • Komisaris Independen: A. Fuad Rahmany
  • Komisaris Independen: A. Sonny Keraf
  • Komisaris Independen: Rofikoh Rokhim
  • Komisaris Independen: Hendrikus Ivo
  • Komisaris: Nicolaus Teguh Budi Harjanto
  • Komisaris: Hadiyanto
  • Komisaris: Luke Larasati Agustina

Dewan Direksi

  • Direktur Utama: Sunarso
  • Wakil Direktur Utama: Catur Budi Harto
  • Direktur Bisnis Ritel dan Menengah: Priyastomo
  • Direktur Bisnis Mikro: Supari
  • Direktur Konsumer: Handayani
  • Direktur Human Capital: Herdi Rosadi Harman
  • Direktur Jaringan dan Layanan: A. Solichin Lutfiyanto
  • Direktur Keuangan: Haru Koesmahargyo
  • Direktur Digital, TI dan Operasi: Indra Utoyo
  • Direktur Hubungan Kelembagaan dan BUMN: Agus Noorsanto
  • Direktur Kepatuhan: Azzizatun Azimah
  • Direktur Manajemen Risiko: Agus Sudiarto

*****

News

Pegadaian 3 Kali Raih BUMN Sektor Keuangan Terbaik di TFI ke 15

December 20, 2018

Jakarta – PT Pegadaian (Persero) untuk ketiga kalinya terpilih sebagai BUMN Terbaik untuk sektor keuangan bidang pembiayaan dan keuangan lainya dalam acara penganugerahan Tokoh Finansial Indonesia (TFI) ke 15, karena dinilai berhasil mengusung inovasi dan strategi baru dalam pengembangan bisnis di tengah perlambatan ekonomi.

Penghargaan ini diberikan oleh Majalah Investor kepada Pegadaian atas kinerja BUMN dengan menggunakan penilaian kualitatif, sumber informasi sekunder dan diskusi intensif di antara dewan juri. Adapun para dewan juri a.l. Ekonom Aviliani, Dewan Audit OJK Hotbonar Sinaga, Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia Suheri, Firmanzah Rektor Paramadina, Ketua Kajian Asosiasi Emiten Indonesia Gunawan Tjokro.

“Ketika semua industri keuangan dituntut untuk survive karena berbagai tantangan lokal maupun global, Pegadaian tetap mampu membukukan kinerja keuangan yang positif, sehingga dinilai layak menjadi inspirasi bagi perusahaan lain,” ungkap Sunarso, Direktur Utama PT Pegadaian (Persero), disela-sela penganugerahan TFI dan BUMN Terbaik ke 15, Rabu (19/12), di Jakarta.

Sunarso menambahkan penghargaan ini diberikan kepada Pegadaian karena dinilai sigap dalam menghadapi disrupsi dan turbulensi. “Ketika lingkungan bisnis keuangan mengalami perubahan yang dinamis, Pegadaian mampu terus bertumbuh dan melakukan transformasi bisnis.”
“Award ini tidak hanya menjadi motivasi bagi jajaran pimpinan Pegadaian, melainkan segenap karyawan untuk terus menciptakan inovasi dan meningkatkan kinerja perusahaan. Terlebih Pegadaian merupakan perusahaan yang bergerak di industri keuangan non bank, yang berubah dengan cepat dan sangat kompetitif di era digital,” ujarnya.

Dia menambahkan penghargaan ini menjadi pembuka jalan Pegadaian  untuk melantai di bursa pada 2022. “Kami saat ini masih sedang merampungkan proses transformasi dan mempersiapkan aksi korporasi tersebut, sekaligus menunggu izin dari Kementerian BUMN. Pegadaian menjadi perusahaan terbuka bukan hanya untuk mencari pendanaan baru, tapi untuk meningkatkan manajemen perusahaan untuk lebih profesional dan transparan,” kata Sunarso.

Hal ini dilakukan untuk menjadikan Pegadaian menjadi The Most Valuable Finance Company dan agen inklusi keuangan. Selain itu, Pegadaian juga menyiapkan tim organisasi dan manajemen proyek agar memiliki sumber daya manusia (SDM) dan sistem yang kuat. 

Saat ini Pegadaian sedang bertransformasi untuk menjadi lebih muda(h) di usianya yang ke 117 tahun, dengan menyasar anak muda (milenial). Dia mencontohkan dibukanya The Gade Coffee and Gold sebagai bentuk layanan Prioritas, yang telah didirikan di seluruh Wilayah di Indonesia dan tercatat hingga Desember 2018 telah mencapai 20 outlet. Meluncurkan aplikasi layanan Pegadaian Digital Service (PDS), yang hingga saat ini telah mencapai 100.000 lebih pengunduh. Sedangkan untuk kalangan mahasiswa, Pegadaian meluncurkan produk gadai tanpa bunga, yang diharapkan dapat memberikan pengalaman baru bagi kalangan mahasiswa untuk bertransaksi di Pegadaian. 

“Ini akan menambah tenaga untuk memperkuat dari sisi keuangan dan kontribusi masyarakat terhadap Pegadaian. Walaupun begitu Pegadaian tidak akan meninggalkan core bisnis, tetap gadai,” tegasnya.

Kinerja Keuangan Positif

Kinerja Pegadaian pada kuartal ke III 2018 tercatat positif. Laba bersih perseroan naik 6,39 persen year on year (yoy) per September 2018. Dibandingkan periode yang sama tahun 2017 capaian laba bersih meningkat dari Rp1,86 triliun menjadi Rp1,98 triliun. Pada periode yang sama pendapatan usaha perseroan juga meningkat 9,37 persen sebesar Rp8,47 triliun. Sementara beban usaha turun menjadi Rp5,01 triliun.

Posisi Outstanding Loan (OSL) hingga September 2018 mencapai Rp39,68 triliun atau meningkat dibandingkan dengan periode yang sama 2018 sebesar Rp36,360 triliun. Dari sisi aset, perseroan mampu membukukan kenaikan 7,93 persen yoy dari Rp47,83 triliun menjadi Rp51,62 triliun.
Sementara itu, kinerja yang positif lainnya juga ditunjukkan dengan penurunan angka Non Performing Loan (NPL) gross atau kredit bermasalah menjadi 1,8 persen dan NPL Nett 0,2 persen. Sedangkan Return on Equity (ROE) dan Return On Assets (ROA) masing-masing menunjukkan kenaikan yang signifikan sebesar 13,8 persen dan 5,1 persen. Sedangkan target laba kita bersih ditargetkan naik menjadi Rp2,7 triliun dari 2017 sebesar Rp2,5 triliun.

Kinerja keuangan Pegadaian selama kuartal lll 2018 memiliki omset mencapai Rp 87,031 triliun dan ditargetkan hingga akhir tahun ini mencapai Rp 130 triliun. Sedangkan untuk laba bersih juga ditargetkan sebesar Rp 2,7 triliun, naik dari perolehan 2017 sebesar Rp 2,5 triliun. Perseroan juga menargetkan aset meningkat menjadi Rp 58 triliun serta jumlah penyaluran pinjaman naik sekitar Rp 10 triliun menjadi Rp 48,3 triliun.

Indikator penilaian yang dilakukan oleh pihak Majalah Investor dan kesepakatan tim juri, adalah seleksi awal berdasarkan atas kinerja finansial pada masing-masing sektor. Pendekatan yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan adalah improvement dan achievement dan untuk adjustment dilihat dari kinerja Juni 2018.

Untuk kategori BUMN Terbaik bidang Keuangan dan Pembiayaan, indikator penilaian menggunakan kriteria ROA, ROE, DER, pertumbuhan laba bersih, aset, dan pertumbuhan pendapatan setahun. Perusahaan pembiayaan terbaik berdasarkan seleksi tersebut kemudian di peringkat kembali berdasarkan achievement dan improvement ROA dan ROE, hingga jumlahnya menciut menjadi tiga perusahaan dan kemudian dipilih lewat polling. 

Menurut data Pegadaian, di awal tahun 2018 Sunarso mendapatkan dua penghargaan sebagai CEO Terbaik dan Pemimpin Perubahan dari 7 Sky Media, Best CEO BUMN dan The Best CEO Award 2018 dari BUMNTrack, dan Leadership for Digital Transformation of Pawning Business dari Warta Ekonomi Award. Beberapa penghargaan lainnya yang diterima Pegadaian antara lain, The Most Active Issuer, Top Public Relations, Wajib Pajak yang Berkontribusi The Most Promising Company in Strategic Marketing, Tactical Marketing, Marketing 3.0, Brand Campaign, Special Mention in Marketing Innovation, The Most Admire Companies, BUMN Berpredikat Sangat Baik, Top 3 Financial Non Banking, dan Winner of The Best Marketing.

News

Pegadaian Raih The Most Admirer CEO Award kategori Digital Transformation

December 15, 2018

JAKARTA, 14 Desember 2018 – PT Pegadaian (Persero) untuk pertama kalinya meraih penghargaan Most Admired CEO Award 2018, untuk kategori Leadership for Digital Transformation of Pawning Business, karena dinilai berhasil melakukan transformasi digital di era disruption.

“Penghargaan ini memotivasi kami untuk segera merampungkan proses transformasi digital di Pegadaian yang saat ini usianya tidak muda lagi (117 tahun). Tapi kami optimis setelah transformasi selesai Pegadaian akan terus memimpin pasar, ditengah makin maraknya bisnis gadai swasta,” ungkap Harianto, dalam keterangan pers, Jumat (14/12), di Jakarta.

Penghargaan Most Admired CEO Award 2018, untuk kategori Leadership for Digital Transformation of Pawning Business diterima oleh Direktur Pemasaran dan Pengembangan Produk, Harianto Widodo, di acara Awarding Night Warta Ekonomi-Indonesia Most Admirer CEO 2018, Kamis malam (13/12), di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta. 

Menurut Harianto, perkembangan teknologi digital tidak bisa dihindari. Hal tersebut secara langsung mempengaruhi iklim usaha, termasuk perkembangan bisnis keuangan yang terjadi di Pegadaian. Oleh karena itu, Pegadaian harus segera menyesuaikan dengan berkomitmen terus bertumbuh mengikuti perkembangan zaman, namun tetap tidak akan meninggalkan bisnis inti yaitu, gadai.

“Situasi bisnis berubah. Kami perlu transformasi. Meski demikian Pegadaian enggak akan meninggalkan core bisnis, tetap gadai. Tetapi Pegadaian juga masuk ke lini bisnis non gadai, misalnya digital landing. Transformasi ini bertujuan menjadikan Pegadaian makin kuat baik di sisi keuangan, maupun kontribusi ke masyarakat,” katanya.

Harianto menyadari bahwa transformasi itu sulit dan butuh waktu yang lama. “Tapi kami harus lakukan itu,” tegasnya.

Dia menambahkan saat ini sekitar 68 persen nasabah Pegadaian adalah kaum milenial, sehingga perseroan juga harus bisa menyesuaikan diri sesegera mungkin. “Banyak perusahaan yang berakhir bukan karena tidak mau bertransformasi, tapi karena terlambat bertransformasi,” tandasnya. Sepanjang tahun ini Pegadaian sudah meluncurkan produk layanan yang menyasar kaum milenial, yaitu Pegadaian Digital Service (PDS). PDS merupakan layanan digital dari Pegadaian dalam bentuk aplikasi yang berbasis web dan mobile. Selain itu, perseroan juga menerapkan sistem Good Corporate Gorvenance (GCG), dengan mengaplikasikan kesisteman, akuntabilitas, responsibility, independency, dan fairness

Menurut Harianto, kinerja keuangan mencatatkan positif selama kuartal lll 2018, meski Pegadaian sedang melakukan transformasi. Per Agustus 2018, Pegadaian memiliki omset mencapai Rp 87,031 triliun. Pegadaian menargetkan mampu meraih omset hingga Rp 130 triliun di akhir tahun ini Sedangkan untuk laba bersih juga ditargetkan sebesar Rp 2,7 triliun, naik dari perolehan 2017 sebesar Rp 2,5 triliun. Perseroan juga menargetkan aset meningkat menjadi Rp 58 triliun serta jumlah penyaluran pinjaman naik sekitar Rp 10 triliun menjadi Rp 48,3 triliun.

“Dalam lima tahun kedepan, visi utama kami, Pegadaian harus menjadi The Most Valuable Finance Company di Indonesia. Itu akan diukur dengan ukuran-ukuran kinerja keuangan,” tambahnya.

Sementara itu, indikator penilaian WEUI untuk kategori Leadership for Digital Transformation of Pawning Business berdasarkan leadership images yang melihat kemampuan CEO dalam melakukan sebuah transformasi yang dinilai dapat membawa perubahan, kesejahteraan, dan menciptakan pertumbuhan untuk keadan perusahaan kedepan. Professional image yaitu seorang CEO yang memiliki sikap profesional, kualitas kepemimpinan, dan pekerja keras. Selain juga CEO dilihat dari kualitas perusahaan yang tengah di pimpinnya, performance image yang memperlihatkan kualitas kinerjanya dalam membangun perusahaan, global competitiveness image yang memperlihatkan kinerja CEO untuk meningkatkan bisnis perusahaan di pasar global. Selain itu juga ada social image, yang memperlihatkan kinerja CEO dalam aktivitas sosial di perusahaan.

Sebelumnya di awal tahun 2018, Sunarso (Direktur Utama Pegadaian) mendapatkan dua penghargaan sebagai CEO Terbaik dan Pemimpin Perubahan dari 7 Sky Media dan Best CEO BUMN dan The Best CEO Award 2018 dari BUMNTrack. Beberapa penghargaan lainnya yang diterima Pegadaian antara lain, The Most Active Issuer, Top Public Relations, Wajib Pajak yang Berkontribusi The Most Promising Company in Strategic Marketing, Tactical Marketing, Marketing 3.0, Brand Campaign, Special Mention in Marketing Innovation, The Most Admire Companies, BUMN Berpredikat Sangat Baik, Top 3 Financial Non Banking, dan Winner of The Best Marketing.

News

Teknologi Digital Bisa Mendorong Pembangunan Industri Pertanian 4.0 Visioner & Terintegratif

December 13, 2018

Bogor — Ketua Umum Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Sunarso mengusung sembilan konsep pembangunan pertanian visioner dan integratif di era industri pertanian 4.0 dan mengimbau kalangan milenial para sarjana pertanian dapat mengambil peluang tersebut di era makin berkembangnya teknologi digital.

Kesembilan konsep pembangunan pertanian visioner dan terintegratif  yaitu kejelasan tata ruang nasional melalui pembaruan agraria, infrastruktur, pola pengusaha pertanian, kelembagaan pertanian, riset dan teknologi tepat guna. Lalu, supply chain management, aspek keuangan, monitoring neraca produksi dan stok nasional serta industri berbasis pertanian. Hal tersebut dijelaskan oleh Sunarso yang juga Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) dalam kuliah umum Goes To Campus dan HUT PISPI ke 8 di Institut Pertanian Bogor (IPB), Kamis (13/12), Bogor. 

“Di era pesatnya perkembangan teknologi digital dan industri pertanian 4.0, para sarjana pertanian khususnya lulusan IPB harus siap untuk menjadi wirausaha pertanian digital atau tanipreneur. Tidak lagi berpikir menjadi karyawan, karena peluang untuk mengembangkan tanipreneur yang berbasis pada teknologi semakin terbuka, ditengah makin berkurangnya lahan pertanian,” jelas Sunarso.

Saat ini banyak lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi lahan properti dan kawasan industri, tambah Sunarso, sehingga diperlukan pola pikir kreatif dan inovatif untuk mengembangkan pertanian yang visioner dan terintegratif. “Selain itu juga makin berkurangnya minat generasi muda menjadi petani. Oleh sebab itu menjadi petani modern atau petani digital menjadi jawaban untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian.

“Sayangnya generasi milenial saat ini masih malu untuk berprofesi sebagau petani. Padahal petani berperan penting dalam perkembangan ekonomi di Indonesia. Oleh sebab itu perguruan tinggi seperti IPB memiliki peran untuk bersama-sama mengembangkan sembilan konsep yang diusung oleh PISPI, sekaligus mengoptimalkan kebijakan dan fasilitas yang disiapkan pemerintah.

Menurut Sunarso, sektor pertanian merupakan salah satu penyumbang pada pendapatan pendapatan domestik bruto (PDB) negara dan penyedia lapangan pekerjaan bagi untuk masyarakat Indonesia. Sehingga PISPI dan IPB dapat bersama-sama fokus menggarap dan menunjang sektor pertanian agar lebih maju di era digital dan industri 4.0 ini untuk kesejahteraan petani dan rakyat Indonesia.

Sementara itu, pemerintah belum lama ini meluncurkan program kartu tani. Program tersebut memberikan  peluang besar bagi perkembangan usaha pertanian di Indonesia. Kartu tani merupakan sebuah sarana untuk mengakses layanan perbankan terintegrasi yang berguna sebagai simpanan, transaksi, penyaluran pinjaman hingga kartu subsidi (e-wallet). Keunggulannya adalah single entry data, proses validasi berjenjang secara online, transparan, dan multifungsi. Sedangkan Kementerian Pertanian mendukung revolusi industri 4.0 ini dengan mengembangkan sebuah inovasi bisnis yaitu pertanian presisi, pertanian vertikal, dan pertanian pintar. Data besar, sensor dan drone, alat analisis, ‘internet pertanian’ serta otomatisasi alsintan adalah beberapa teknologi yang mendukung industri 4.0.

Sunarso mengimbau agar para mahasiswa dan sarjana pertanian memanfaatkan semua inovasi kebijakan dan fasilitas yang ada untuk menjadi petani modern, wirausaha pertanian yang memadukan informasi dan teknologi digital dalam implementasi di lapangan. “Petani Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan sektor hulu saja seperti budidaya atau produksi pertanian, tapi juga harus bisa mengoptimalkan sektor hilir seperti bisnis pengolahan sehingga ada nilai tambah pada petani. 

Sunarso sebagai orang nomor 1 di Pegadaian dan juga Ketua Umum PISPI cukup concern terhadp pengembangan SDM dan pertanian. Contohnya, Program Pegadaian Sahabat Desa tujuannya untuk mempermudah masyarakat desa dan daerah pinggiran dalam mengakses produk-produk dan layanan Pegadaian. Selain itu Pegadaian juga menggandeng Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Pegadaian membuka layanan keliling yang berpindah dari desa satu ke desa lainnya. Dengan demikian masyarakat desa yang tinggal jauh dari outlet Pegadaian pun dapat dilayani, dari mulai menyediakan akses permodalan dan petani juga bisa menggadaikan alat pertaniannya seperti traktor tangan, pompa air dan lainnya. “Petani sekarang cukup ke Pegadaian, maka dengan mudah dapat mencari tambahan modal untuk mengembangkan produktivitas pertaniannya.” 

Jumlah outlet Pegadaian hingga saat ini tercatat lebih dari 4.300 outlets di seluruh Indonesia. Dengan jumlah nasabah yang telah mencapai 9 juta orang dan lebih dari 13.000 karyawan yang bekerja di Pegadaian.

***