BRIEF.ID – Bursa saham Asia ditutup melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026) setelah aksi jual besar-besaran melanda saham-saham produsen chip. Aksi jual terjadi setelah dipicu kekhawatiran bahwa investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) mulai mengalami lonjakan.
Tekanan paling besar terjadi di Korea Selatan, di mana indeks Korea Composite Stock Price Index (Kospi) anjlok hampir 11%, sehingga memicu penghentian perdagangan sementara (circuit breaker).
Kospi ditutup turun 10,8% ke level 6.023,66 setelah sempat menyentuh level terendah sejak April. Bursa Korea sempat menghentikan perdagangan selama 20 menit ketika indeks melewati ambang batas penurunan yang ditetapkan untuk meredam kepanikan pasar.
Aksi jual dipimpin saham-saham semikonduktor. Saham Samsung Electronics merosot 13,4%, sementara SK Hynix jatuh 14,7%. Tekanan terhadap SK Hynix juga berlanjut setelah saham perusahaan yang diperdagangkan di Amerika Serikat (AS) sehari sebelumnya ditutup pada US$ 143 per saham, di bawah harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar US$149.
Pelemahan dipicu meningkatnya kekhawatiran bahwa persaingan dari perusahaan rintisan AI serta produsen chip asal Tiongkok akan mengurangi prospek keuntungan perusahaan-perusahaan teknologi global yang selama ini menikmati lonjakan valuasi berkat optimisme terhadap AI.
Selain itu, sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan setelah reli panjang yang mendorong saham-saham teknologi mencapai rekor tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh debut spektakuler produsen chip memori Tiongkok, ChangXin Memory Technologies (CXMT). Saham perusahaan tersebut sempat melonjak 466% pada hari pertama perdagangan di Bursa Shanghai setelah berhasil menghimpun sedikitnya US$8,6 miliar melalui IPO. Namun pada perdagangan Selasa, saham CXMT terkoreksi sekitar 4%, mencerminkan aksi ambil untung investor.
Tekanan terhadap sektor chip semakin meningkat setelah media teknologi The Information melaporkan bahwa Tiongkok telah memulai produksi massal peralatan litografi deep ultraviolet (DUV) buatan dalam negeri. Teknologi tersebut merupakan komponen penting dalam proses pembuatan chip karena digunakan untuk mencetak pola sirkuit pada wafer silikon.
Analis ekuitas Morningstar, Jing Jie Yu, mengatakan pasar kemungkinan terkejut oleh kemajuan teknologi manufaktur chip China dan khawatir perkembangan tersebut dapat mengancam daya saing produsen chip serta pembuat peralatan semikonduktor global.
Meski demikian, Yu menilai aksi jual yang terjadi pada perdagangan Selasa cenderung berlebihan. Menurutnya, para pemimpin industri semikonduktor global masih memiliki keunggulan teknologi yang kuat sehingga posisi kompetitif mereka tidak akan mudah tergeser dalam waktu dekat.
Di luar Korea Selatan, sebagian besar bursa saham Asia juga bergerak di zona merah, sementara harga minyak mentah turun lebih dari 2%, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi global dan sektor teknologi. (AP/nov)


