BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah cenderung bergerak stabil di level Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS), pada perdagangan Selasa (27/10/2026), seiring meredanya ekspetasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Pada pembukaan perdagangan hari ini, kurs rupiah melemah tipis 0,03% atau 5 poin menjadi Rp18.140 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.135 per dolar AS.
Hingga pukul 11:20 WIB, nilai tukar rupiah terpantau berada di level Rp18.135 atau stabil seperti posisi pada penutupan perdagangan Senin (26/10/2026).
Pergerakan nilai tukar rupiah yang cenderung stabil, dipengaruhi meredanya tekanan eksternal, seiring harga minyak dunia yang melandai, dan turunnya ekspetasi kenaikan suku bunga The Fed atau Fed Funds Rate (FFR).
Hari ini, harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan turun 0,57% menjadi US$115,15 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,43% menjadi US$101,32 per barel.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury juga mengalami penurunan sebesar 1,8 basis poin (bps) ke 4,97%, seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
The Fed akan menggelar rapat FOMC selama dua hari, pada 27-28 Oktober 2026, dengan salah satu agenda membahas posisi FFR. Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan FFR di kisaran 3,75%-4,00%.
Meski demikian, indeks dolar AS yang menguat ke level 101,95 memberi tekanan pada rupiah dan mata uang Asia lainnya pada sesi pagi perdagangan hari ini.
Sementara di dalam negeri, arus modal keluar (capital outflow) dari pasar surat utang dan pasar saham menjadi sentimen negatif bagi pergerakan rupiah.
Untuk perdagangan hari ini, kurs rupiah diprediksi bergerak variatif dengan kecenderungan stabil menuju menguat tipis di kisaran level Rp18.100 per dolar AS hingga Rp18.150 per dolar AS. (Jea)


