Rupiah Perkasa Ditopang Aksi Beli SUN, Makin Jauh dari Level Rp18.000 per Dolar AS

BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah perkasa ditopang aksi beli Surat Utang Negara (SUN) pada perdagangan hari ini, Jumat (2/10/2026), hingga makin menjauh dari level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hingga pukul 13:20 WIB, kurs rupiah terpantau berada di level Rp17.885 per dolar AS, naik 0,45% atau 81 poin dibandingkan level sebelumnya Rp17.966.

Sebelumnya pada awal perdagangan, nilai tukar rupiah Jisdor dibuka menguat tipis 0,06% atau 11 poin menjadi Rp17.955 per dolar AS dibandingkan Rp17.966 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (1/10/2026).

Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah terpantau menguat 0,35% ke level Rp17.888 per dolar AS, seiring meningkatnya aksi belin investor di pasar surat utang.

Hal itu, terlihat dari penurunan imbal hasil (yield) SUN di berbagai tenor, terutama di tenor jangka pendek dan jangka menengah. Yield SUN Tenor 1 tahun turun sebesar 7 basis poin (Bps) ke 6,7%.

Selanjutnya, yield SUN tenor 3 tahun turun 2 bps ke 6,92%, tenor 5 tahun turun 2,6 bps ke 7,03%, dan tenor 6 tahun turun 1,6 bps ke 7,08%, dan SUN tenor 11 tahun turun 6 bps ke 7,08%. Sementara SUN berdenominasi dolar AS turun 1,9 bps menjadi 6,24%.

Geliat penurunanyield di pasar obligasi, yang  menandakan investor kembali melancarkan aksi beli, mendorong penguatan yang lebih tajam pada rupiah siang ini.

Penguatan rupiah hari ini, juga sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia, yang menguat terhadap dolar AS, antara lain Baht Thailand, Won Korea Selatan, Peso Filipina, Yen Jepang, Yuan Offshore, Dolar Singapura, dan Ringgit Malaysia.

Meski menguat, pergerakan rupiah masih rawan koreksi secara fundamental, seiring inflasi tinggi akibat lonjakan harga minyak dunia, dan tren kenaikan suku bunga acuan secara global.

Sejumlah ekonom memperkirakan rupiah masih berpotensi menyentuh level Rp18.000 per dolar AS, mengingat Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) telah memberi sinyal akan menaikkan suku bunga sebanyak 1 kali hingga akhir 2026.

Selain itu, ketidakpastian perdamaian konflik Timur Tengah antara AS dan Iran, yang menyebabkan belum adanya jaminan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, membuat dunia masih rawan terancam krisis energi.

Untuk perdagangan akhir pekan ini, nilai tukar rupiah diprediksi bergerak menguat di kisaran level Rp17.850 per dolar AS hingga Rp17.950 per dolar AS. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Pudarnya Kearifan Lokal, Ketika Korupsi Dianggap Normal

Oleh: Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers BRIEF.ID - Dalam berbagai...

Beredar Rumor Sanksi MSCI, IHSG Awal Pekan Ditutup Anjlok di Bawah Level 6.000

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Go Public T.O.P dan Nana Berujung Cancel Culture, Sampai Fansite Tutup

BRIEF.ID - Pencinta K-Pop baru-baru ini dikejutkan dengan merebaknya...

Marco Bezzecchi Rajai MotoGP Mandalika 2026, Jorge Martin Rebut Puncak Klasemen

BRIEF.ID – Marco Bezzecchi (Aprilia Racing) memenangi balapan utama...