BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah di luar negeri (offshore) menguat tipis saat pasar keuangan dalam negeri libur Hari Buruh Sedunia, Jumat (1/5/2026).
Pada awal perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah offshore atau Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka menguat tipis 0,1% di level Rp17.320 per dolar AS.
Meski demikian penguatan rupiah tak bertahan lama, seiring menguatnya indeks dolar AS. Pada sesi pagi ini, indeks dolar AS dibuka menguat 0,07% ke level 98,12.
Kenaikan harga minyak dunia yang menembus US$120 per barel, memberi tekanan pada sebagian besar mata uang Asia, yang sebagian besar libur untuk memperingati Hari Buruh Sedunia.
Selain rupiah, Rupe India, dan Peso Filipina tercatat menjadi mata uang Asia terlemah atas dolar AS, dan mengalami tekanan paling dalam, sejak konflik Timur Tengah terjadi pada 28 Februari 2026.
Bagi rupiah, kenaikan harga minyak dunia menyebabkan tekanan ganda. Defisit transaksi berjalan yang diperkirakan kembali melebar seiring tingginya harga minyak membayangi pergerakan rupiah.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat kenaikan harga minyak dunia secara langsung memperbesar kebutuhan devisa, sehingga memperlebar defisit dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar.
Saat ini, pelaku pasar tengah menanti data ekspor impor Indonesia, yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), pada Senin (4/5/2026). Data ini akan menjadi acuan fundamental ekonomi dari sisi keseimbangan eksternal atau defisit neraca berjalan.
Jika surplus dari neraca dagang per Maret 2026 lebih rendah dari US$1,5 juta, maka nilai tukar rupiah akan kembali tertekan oleh risiko pelebaran defisit neraca berjalan ke rentang atas proyeksi BI, yakni mendekati -1.30% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pada perdagangan Kamis (40/4/2026), rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,36% di level Rp17.353 per dolar AS, setelah sempat menyentuh level terendah di Rp17.380 per dolar AS. (jea)


