BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah di level Rp17.000, meskipun ada sentimen positif dari kesepakatan gencatan senjata antara AS-Iran selama 2 minggu.
Sempat dibuka menguat di awal perdagangan hari ini, Rabu (8/4/2026), rupiah perlahan tertekan ke zona merah, seiring pengumuman Bank Indonesia terkait posisi cadangan devisa per Maret 2026.
Pada awal perdagangan hari ini, kurs rupiah di pasar spot dibuka menguat 0,6% menjadi Rp16.992 per dolar AS. Namun hingga pukul 11:00 WIB, nilai tukar rupiah terpantau melemah di level Rp17.022 per dolar AS.
Penguatan nilai tukar rupiah di awal sesi pagi perdagangan hari ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya, seiring sentimen positif kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran, serta dibukanya kembali Selat Hormuz.
Hal itu, membuat dolar AS melemah, dan terhempas dari level 100. Pada perdagangan hari ini, indeks dolar AS terkoreksi cukup dalam, yakni sebesar 0,94% ke posisi 98,92.
Pelemahan dolar AS menjadi angin segar bagi mata uang Asia, termasuk rupiah, apalagi harga minyak dunia ikutan anjlok di bawah level US$100 per barel.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah kembali datang, seiring pengumuman BI terkait posisi cadangan devisa yang mengalami penurunan signifikan per Maret 2026.
Dalam pengumuman hari ini, BI menyatakan cadangan devisa per akhir Maret 2026 tercatat sebesar US$148,2 miliar, turun US$3,7 miliar dibandingkan posisi per Februari 2026.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi menguat tipis di kisaran Rp16.990 per dolar AS hingga Rp17.050 per dolar AS. (jea)


