Rupiah Ambruk Tembus Level Rp17.900 per Dolar AS Gara-Gara Lonjakan Harga Minyak Dunia

BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah ambruk hingga menembus level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (24/9/2026) gara-gara lonjakan harga minyak dunia.

Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka melemah 0,26% atau 46 poin menjadi Rp17.864 per dolar AS dari level sebelumnya Rp17.818 per dolar AS.

Hingga pukul 13:40 WIB, pelemahan rupiah terus berlanjut, bahkan terpantau menyentuh level Rp17.922 per dolar AS,  turun 0,58% atau 104 poin dibandingkan Rp17.818 per dolar AS pada penutupan perdagangan rabu (23/9/2026).

Pelemahan rupiah dipicu kenaikan indeks dolar Amerika Serikat (AS) ke level 100, dipicu lonjakan harga minyak dunia, yang kembali menyentuh level US$100 per barel, seiring ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah.

Pada penutupan perdagangan Rabu (23/9/2026), harga minyak dunia jenis Brent melonjak 3,9% di level US$103,08 per barel. Sedangkan harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,8% menjadi US$92,16 per barel.

Sementara pada awal perdagangan hari ini, harga minyak dunia turun tipis, namun masih berada di atas level US$100 per barel, setelah Iran memberi sinyal akan membuka Selat Hormuz jika syarat mereka dipenuhi AS.

Harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan global turun 0,9% menjadi US$102,13 per barel. Sedangkan minyak mentah WTI AS  melemah 0,7% menjadi US$91,56 per barel.

Hal itu, memicu kenaikan indeks dolar AS ke level 101,2, yang mendorong imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS atau US Treasury ikut melonjak.

Yield US Treasury tenor 10 tahun melonjak di atas 5%, mengindikasikan langkah investor mengalihkan modal ke aset dalam dolar AS di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah, dan perang Iran-Ukraina.

Selain itu, pelaku pasar juga menyoroti kunjungan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, ke AS pada Rabu (23/9/2026) waktu setempat, yang merupakan kunjungan kenegaraan pertamanya lebih dari satu dekade terakhir.

Pelaku pasar cenderung bersikap wait and see (menunggu) hasil pertemuan Presiden Tiongkok,  Xi Jinping, dan Presiden AS, Donald Trump, terutama terkait isu perang dagang antarkedua negara adikuasa tersebut.

Sementara dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuan atau BI-Rate di kisaran 5,75% tidak terlalu berdampak, karena sudah diantisipasi pelaku pasar sebelumnya.

Hal ini membuat pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal. Untuk perdagangan hari ini, kurs rupiah diprediksi bergerak melemah di kisaran level Rp17.850 per dolar AS hingga Rp17.950 per dolar AS. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Vonis Banding Nadiem Diskon Jadi 9 Tahun dan Uang Pengganti Jadi Rp548,7 M

BRIEF.ID - Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta memberi diskon hukuman...

IHSG Nyaris Terhempas dari Level 6.300 Imbas Tertekan Kenaikan Indeks Dolar AS

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Polda Metro Jaya Kerahkan 26.386 Personel Amankan 73 Aksi di Jakarta Hari Ini

BRIEF.ID - Polda Metro Jaya mengerahkan sebanyak 26.386 personel...

MK Periksa Sengketa Pilpres 2024, KPU Persoalkan Legal Standing hingga Syarat Pendidikan Gibran

BRIEF.ID - Mahkamah Konstitusi (MK) kembali memeriksa perkara Perselisihan...