BRIEF.ID – Lembaga Riset Finansial Independen Yardeni menyatakan, Federal Reserve (The Fed) seharusnya menaikkan suku bunga pada Juli mendatang. Harapan ini jauh lebih awal dari konsensus pasar yang tidak memperkirakan kenaikan hingga akhir 2026 paling cepat.
Yardeni berargumen bahwa inflasi yang meluas dan ekonomi yang tangguh telah menggeser keseimbangan risiko secara tegas ke arah pengetatan kebijakan.
Lembaga riset itu memperkirakan The Fed akan beralih ke bias pengetatan pada pertemuan 16-17 Juni 2026, yang kemudian diikuti kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan berikutnya.
“Tekanan ada pada Fed untuk melakukan hal tersebut demi menjaga kredibilitasnya,” tulis Yardeni Research, sambil memperingatkan bahwa jika The Fed gagal bertindak, pasar obligasi akan memaksakan masalah ini dengan mendorong imbal hasil lebih tinggi.
Argumen inflasi bertumpu pada data April 2026 yang menunjukkan bahwa CPI utama, PPI, dan deflator pengeluaran konsumsi pribadi semuanya berada pada level yang terakhir terlihat pada 2023.
Pembacaan inti juga masih tinggi, dan alat nowcasting milik Cleveland Fed memproyeksikan CPI utama naik ke 4,18% secara tahunan pada Mei. Yardeni mencatat bahwa bahkan pembukaan kembali Selat Hormuz pun tidak akan segera menyelesaikan tekanan harga, karena kemacetan rantai pasokan dan dampak lanjutan energi biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mereda.
Dari sisi pertumbuhan, model GDPNow milik Atlanta Fed memproyeksikan pertumbuhan PDB kuartal kedua sebesar 3,8%, sementara klaim pengangguran tetap rendah dan penjualan ritel berjalan jauh di atas rata-rata terkini, sehingga mengurangi urgensi untuk melindungi pasar tenaga kerja melalui kebijakan yang lebih longgar.
Komentar terbaru dari pejabat The Fed memperkuat pergeseran ini, dengan sejumlah pejabat termasuk Gubernur Christopher Waller dan Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem sama-sama mengambil nada hawkish. (Investing.com/nov)


