BRIEF.ID – Hasil riset terbaru dua lembaga keuangan internasional, ANX dan Standard Chartered (Stanchart) memprediksi harga emas dunia akan menembus US$5.000 di Semester I 2026.
Baik ANZ maupun Stanchart, menyatakan, penurunan suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), dan ketegangan geopolitik menjadi pendorong utama kenaikan harga emas di tahun ini.
Investor memperkirakan suku bunga acuan The Fed berpeluang turun sebanyak dua kali, masing-masing sebesar 25 basis poin di tahun ini, dengan penurunan paling awal pada bulan Juni.
Selain itu, ketegangan geopolitik antara AS dan Venezuela, juga antara AS dengan negara-negara Eropa terkait klaim terhadap Greenland, semakin menambah ketidakpastian global.
Kedua faktor ini menjadi pendorong utama reli harga emas dunia di semester I 2026. ANZ dan Stanchart meyakini emas tetap menjadi sorotan utama investor global, khususnya bank sentral, yang akan cenderung menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian global.
“Suku bunga rendah dan ketidakpastian geopolitik atau ekonomi secara tradisional menguntungkan aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti emas. ANZ memperkirakan harga emas akan diperdagangkan di atas US$5.000 per troy ounce, pada paruh pertama tahun 2026,” bunyi riset ANZ, yang dipublikasikan Rabu (14/1/2026).
Sementara Stanchart menyampaikan, investor bersiap menghadapi tahun dengan kinerja aset berisiko yang kuat disertai dengan meningkatnya ketidakpastian, sehingga emas menjadi pilihan utama investasi.
“Kami tetap merekomendasikan ‘Overweight’ (lebih tinggi dari rata-rata) untuk emas, dengan target harga 3 dan 12 bulan masing-masing di US$4.350 per troy ounce dan US$4.800 per troy ounce. Permintaan berkelanjutan dari bank sentral Pasar Berkembang (EM) dan kondisi makro yang mendukung reli emas,” bunyi riset Stanchart.
Diperkirakan harga emas akan melanjutkan reli didukung oleh pembelian berkelanjutan dari bank sentral, dolar AS yang lebih lemah, dan munculnya kembali hubungan terbalik antara emas dan imbal hasil obligasi.
“Faktor-faktor ini, dikombinasikan dengan meningkatnya risiko geopolitik dan makroekonomi, memperkuat peran emas sebagai diversifikasi portofolio utama,” sebut Stanchart.
Meskipun harga emas sudah mencapai rekor tertinggi jika disesuaikan dengan inflasi, bank tersebut mencatat bahwa logam mulia ini tetap relatif murah jika dibandingkan dengan ekuitas global, khususnya S&P 500 AS.
Prospek ini muncul di tengah perdebatan pasar apakah valuasi ekuitas yang melonjak, yang sebagian besar didorong oleh antusiasme terhadap AI, mendekati wilayah gelembung.
Meskipun Stanchart belum melihat kondisi yang menyerupai krisis keuangan masa lalu, investor diperingatkan bahwa dispersi yang lebih tinggi di berbagai kelas aset membuat diversifikasi menjadi sangat penting, dan emas menjadi piihan utama. (jea)


