Review Indeks MSCI Periode Agustus, 11 Saham Indonesia Kena Rebalancing

BRIEF.ID – Morgan Stanley Capital Indonesia (MSCI) mengumumkan hasil kajian atau review indeks periode Agustus 2026 atau MSCI August 2026 Index Review pada Rabu (12/8/2026) malam atau Kamis (13/8/2026) dinihari WIB.

Dalam review tersebut, 11 saham Indonesia terkena penyesuaian ulang atau rebalancing di daftar konstituen MSCI Global Standard Indexes, dan MSCI Global Small Cap Indexes.

Terdapat 2 saham Indonesia yang dihapus dari daftar konstituen MSCI Global Standard Indexes, dan 9 saham lainnya terdepak dari MSCI Global Small Cap Indexes.

Adapun 2 saham yang dihapus dari daftar konstituen MSCI Global Standard Indexes, yaitu PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Meskipun CPIN dikeluarkan dari daftar konstituen MSCI Global Standard Indexes, saham perusahaan agribisnis terbesar di Indonesia tersebut, masuk ke MSCI Global Small Cap Indexes.

Sedangkan 9 saham yang dihapus dari daftar konstituen MSCI Global Small Cap Indexes, terdiri dari :
1. – PT Bank Jago Tbk (ARTO).
2. PT Bukalapak.com Tbk (BUKA).
3. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA).
4. PT MD Entertainment Tbk (FILM).
5. PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL).
6. PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG).
7. PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU).
8. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR).
9. PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).

“Perubahan konstituen tersebut, berlaku efektif setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026,” demikian pengumuman MSCI, dikutip Kamis (13/8/2026).

Dengan perubahan tersebut, sama sekali tidak ada penambahan saham Indonesia dalam daftar MSCI Global Standard Indexes, sebaliknya ada 2 saham yang terdepak.

Sementara di daftar konstituen MSCI Global Small Cap Indexes, hanya 1 saham Indonesia yang ditambahkan, sedangkan 9 saham lainnya dihapus karena mengalami downgrade (penurunan kelas)

Dalam review tersebut, MSCI menyatakan tidak terdapat perubahan pada daftar negara Emerging Markets saat ini, begitu juga untuk kategori MSCI Frontier Emerging Markets Index.

Hal itu berarti MSCI masih menempatkan pasar ekuiti Indonesia tetap berada di kategori  Emerging Markets atau negara berkembang. Meski demikian, ketiadaan saham baru yang masuk daftar MSCI Global Standard Indexes dinilai membatasi potensi passive inflow.

Selain itu, dampak negatif lainnya dapat terjadi pada saham yang mengalami penurunan kelas atau keluar dari daftar konstituen MSCI Global Standard Indexes, dan MSCI Global Small Cap Indexes.

Dengan demikian 11 saham yang mengalami penurunan kelas atau terdepak berpotensi mengalami tekanan jual, karena investor melakukan penyesuaian portofolio mengikuti benchmark MSCI. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Investor Asing Mulai Kembali ke Indonesia, Tae Yong Shim Ungkap Sinyal Kebangkitan Saham dan Obligasi

BRIEF.ID - Investor asing mulai kembali menempatkan dananya di...

Rupiah Menguat Seiring Tren Pelemahan Yield US Treasury dan Indeks Dolar AS

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah menguat terhadap dolar...

IHSG Melemah Imbas Aksi Profit Taking, Lebih Dari 300 Saham Turun Harga

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Rosan: Pupuk Indonesia Jajaki Investasi Pabrik Urea di Vladivostok

BRIEF.ID — Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM merangkap CEO...