BRIEF.ID – Konglomerat Prajogo Pangestu berada di puncak dalam daftar orang terkaya Indonesia. Dikutip dari Forbes Real Time Billionaires, Senin (4/5/2026 kekayaan Prajogo mencapai US$ 20,9 miliar.
Ia menjadi satu-satunya konglomerat RI yang kekayaannya di atas US$20 miliar saat ini. Perusahaan-perusahaan di bawah grupnya mencatat lonjakan laba dan pendapatan pada 2026. Kinerja kuat ini bersumber dari sektor energi, petrokimia, tambang, dan energi terbarukan.
Prajogo juga menjual ratusan juta lembar saham CUAN pada akhir April 2026. Tujuan penjualan saham adalah meningkatkan free float saham di pasar dan tetap mempertahankan kendali perusahaan.
Posisi kedua ditempati Low Tuck Kwong. Pengusaha batu bara tersebut memiliki kekayaan US$ 16,5 miliar. Dikenal sebagai raja batubara, Low Tuck Kwong yang lahir di Singapura adalah pendiri Bayan Resources, sebuah perusahaan pertambangan batubara terkemuka di Indonesia.
Ia juga mengendalikan perusahaan energi terbarukan Singapura, Metis Energy (sebelumnya dikenal sebagai Manhattan Resources) serta memiliki saham di The Farrer Park Company dan Samindo Resources.
Low mendukung SEAX Global, yang sedang membangun sistem kabel laut bawah laut untuk konektivitas internet yang menghubungkan Singapura, Indonesia, dan Malaysia. Ia juga bekerja untuk perusahaan konstruksi ayahnya di Singapura saat masih remaja dan kemudian pindah ke Indonesia pada tahun 1972 untuk mencari peluang yang lebih besar.
Pada Agustus 2024, ia mentransfer saham di Bayan, senilai US$ 6,6 miliar kepada putrinya, Elaine.
Di urutan ketiga, R. Budi Hartono mencatatkan kekayaan US$ 15,8 miliar. Bos sektor perbankan dan tembakau ini menempati posisi 179 dalam daftar miliarder global.
Sementara itu, Anthoni Salim berada di posisi keempat dengan kekayaan US$ 11,9 miliar. Di posisi kelima, Dato Sri Prof. Dr. Tahir, pendiri Mayapada Group yang mengantongi harta US$ 9,7 miliar.
Peringkat keenam orang terkaya di Indonesia adalah Sri Prakash Lohia dengan kekayaan sekitar US$ 8,8 miliar. Sumber kekayaan Lohia, yang dikenal sebagai pemilik Indorama Group adalah industri petrokimia, pupuk, dan polimer.
Otto Toto Sugiri menempati peringkat ketujuh dengan kekayaan US$ 8,4 miliar. Marina Budiman, berada di posisi kedelapan dengan harta US$ 6 miliar.
Selain itu, terdapat nana-nama seperti Lim Hariyanto Wijaya Sarwono yang mengantongi US$ 5,3 miliar dari bisnis kelapa sawit dan pertambangan nikel.
Di sektor manufaktur, Haryanto Tjiptodihardjo memiliki kekayaan US$ 5 miliar; Theodore Rachmat dengan harta US$ 4,9 miliar dari berbagai lini usaha; Chairul Tanjung yang memiliki kekayaan US$ 4,6 miliar; Sukanto Tanoto US$ 4,3 miliar; Agoes Projosasmito kekayaannya berjumlah US$ 3,9 miliar; Han Arming Hanafia US$ 3,9 miliar.
Di sektor kelapa sawit, Martua Sitorus memiliki kekayaan US$ 3,6 miliar; Wirastuty Fangiono mencatatkan US$ 1,7 miliar; Bachtiar Karim memiliki kekayaan US$ 1,6 miliar; Bahari Karim dan Burhan Karim masing-masing mengantongi US$ 1,3 miliar; dan Hary Tanoesoedibjo dengan kekayaan US$ 1,1 miliar. (nov)


