BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (4/5/2026) diperkirakan masih bergerak masih rawan koreksi dan bergerak mendatar di kisaran 7.000–7.150.
Riset Phintraco Sekuritas menunjukkan bahwa IHSG diperkirakan akan bergerak pada resistance 7.150, pivot 7.000, dan support 6.850. Saham-saham yang diunggulkan yaitu, BUMI, AADI, MINA, LSIP, TINS, dan PGAS.
“Secara teknikal, jika IHSG mampu rebound di atas level 7.000, diperkirakan akan bergerak di kisaran 7.020-7.150. Namun jika IHSG masih bergerak di bawah level 7.000, diperkirakan berpotensi uji level di 6.750-6.850,” demikian disebutkan dalam riset Phintraco Sekuritas yang dirilis, Senin (4/5/2026).
Sementara itu, indeks utama di bursa Wall Street ditutup mixed pada perdagangan Jumat (1/5/2026). Indeks S&P500 ditutup pada rekor tertinggi baru, didorong oleh kenaikan pada saham Apple serta koreksinya harga minyak mentah.
Harga minyak mentah melemah setelah Iran mengirimkan proposal perdamaian baru ke AS melalui Pakistan. Namun, proposal itu ditolak. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak puas dengan tawaran baru yang disampaikan Iran.
Trump menghadapi tenggat waktu 60 hari berdasarkan War Powers Resolution terkait aksi militer dalam perang Iran. Pemerintahan Trump juga berpendapat bahwa gencatan senjata sejak 7 April 2026 telah mengakhiri permusuhan kedua pihak, sehingga Trump dapat menghindari permintaan persetujuan Kongres untuk perang tersebut.
Pada pekan ini investor global masih akan mencermati potensi putaran pembicaraan baru antara AS dan Iran. Dari data ekonomi, investor akan mencermati data tenaga kerja AS dan data sektor jasa ISM.
Dari dalam negeri dilaporkan akan dirilis sejumlah data ekonomi pada pekan ini, yaitu indeks manufacturing PMI, neraca perdagangan dan inflasi pada Senin (4/5/2026). Selain itu, akan dirilis data pertumbuhan ekonomi Kuartal I-2026, pada Selasa (5/5/2026), cadangan devisa, indeks harga properti, dan penjualan mobil, pada Jumat (8/5/2026).
Sementara itu, realisasi APBN 2026 hingga akhir Maret 2026 mencatat defisit Rp 240,1 triliun atau setara 0,93% dari produk domestik bruto (PDB), melebar dari defisit 0,43% pada akhir Maret 2025.
Defisit ini disebabkan oleh kenaikan belanja negara sebesar 31,4% menjadi Rp 815 triliun dan pendapatan negara mencapai Rp 574,9 triliun atau 18,2% dari target.
Investor akan mencermati perkembangan realisasi APBN 2026 di tengah kekhawatiran disiplin penggunaan fiskal dan dampaknya terhadap ekonomi. (nov)


