BRIEF.ID – Dulu, alunan rubab menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang musisi di Afghanistan. Musik bukan sekadar pekerjaan baginya, melainkan warisan keluarga yang telah mengalir dari generasi ke generasi. Namun, sejak Taliban mengambil alih kekuasaan pada tahun 2021 dan memberlakukan larangan musik, kehidupan yang pernah dibangun perlahan runtuh.
Toko alat musik tradisional yang dikelola terpaksa tutup. Aktivitas mengajar musik di sekolah pun tak lagi bisa dijalankan. Sebagian besar alat musik yang berhasil diselamatkan harus dikemas dan dikirim ke luar negeri, sementara sisanya disembunyikan agar tidak jatuh ke tangan pihak berwenang.
Bagi seorang musisi, kehilangan toko bukan sekadar kehilangan sumber penghasilan. Ia juga kehilangan bagian penting dari sejarah keluarganya.
Ayahnya, yang juga seorang musisi, sangat terpukul oleh keadaan itu. Tak lama setelah toko ditutup, sang ayah meninggal dunia akibat serangan jantung. Ia meyakini kesedihan mendalam akibat kehilangan usaha keluarga tersebut turut memengaruhi kondisi ayahnya hingga akhir hayat.
Dulu, kehidupannya terbilang berkecukupan. Dari mengajar musik dan menjalankan toko alat musik tradisional, ia mampu memperoleh sekitar 10.000 afghani atau US$ 150 setiap hari.
Kini, kehidupan berbalik 180 derajat. Ia harus bekerja sebagai buruh kasar dengan penghasilan hanya sekitar 100 afghani atau US$ 1,50 per hari. Dengan istri dan anak-anak yang harus dinafkahi, ia terjerumus dalam kemiskinan.
Musik yang dulu memberinya kehidupan kini justru menjadi sesuatu yang harus disembunyikan.
Nasib serupa dialami seorang penyanyi Afghanistan. Selama dua tahun, ia menganggur setelah larangan musik diberlakukan. Ia akhirnya dapat kembali memperoleh penghasilan setelah teman-temannya membantu merintis sebuah usaha kecil.
Namun, persoalan yang dihadapi para musisi bukan hanya kehilangan pekerjaan. Mereka juga kehilangan ruang untuk mengekspresikan diri dan mempertahankan tradisi seni yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Afghanistan.

Bernyanyi Menjadi Ancaman
Pada masa-masa awal larangan musik diberlakukan, sejumlah musisi masih berusaha mempertahankan aktivitas mereka melalui pertunjukan tertutup secara sembunyi-sembunyi.
Sang penyanyi dan pemain rubab itu termasuk di antara mereka yang pernah tampil dalam pertemuan rahasia. Musik tetap dimainkan, meskipun harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
Namun, ruang untuk bertahan semakin menyempit. Pertunjukan rahasia yang dulu masih memungkinkan kini menjadi terlalu berisiko.
“Situasi kian hari kian sulit, dan agen pemerintah aktif mencari orang-orang seperti saya untuk ditangkap,” ujar sang penyanyi.
Sudah empat tahun ia tidak lagi tampil dalam pertemuan musik rahasia. Ancaman penangkapan membuatnya memilih berhenti. Ia tidak ingin mempertaruhkan kebebasannya, terlebih masih memiliki anak-anak kecil yang membutuhkan kehadirannya.
Risiko ini bukan sekadar ketakutan tanpa alasan.
Pemain rubab itu pernah mengalami langsung bagaimana sebuah acara musik digerebek polisi moral setelah salah seorang peserta mengambil foto dan mengirimkannya kepada pihak berwenang.
Sejumlah orang ditangkap dalam penggerebekan tersebut. Ia sendiri berhasil meloloskan diri. Pengalaman itu meninggalkan trauma sekaligus menjadi titik akhir bagi keterlibatannya dalam pertunjukan musik rahasia.
Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi tampil.
Bagi para musisi tersebut, panggung bukan lagi tempat untuk berkarya. Bahkan, sebuah pertemuan kecil untuk memainkan musik dapat berubah menjadi ancaman penangkapan.
Warisan yang Berusaha Diselamatkan
Di tengah tekanan dan ketidakpastian, pemain rubab itu masih menyimpan harapan. Ia tidak ingin tradisi musik yang diwariskan keluarganya berhenti pada dirinya.
Sejak kecil, ia belajar memainkan rubab dari ayahnya. Kemampuan tersebut merupakan warisan yang diteruskan dari kakek kepada ayahnya, kemudian kepadanya.
Kini, ia bertekad mengajarkan permainan alat musik tradisional itu kepada putra sulungnya.
“Ini adalah warisan dari ayah saya, dan saya ingin warisan ini terus berlanjut,” ujarnya.
“Dari kakek saya kepada ayah saya, dari ayah saya kepada saya, lalu dari saya kepada putra saya, dan seterusnya. Tradisi ini harus terus berjalan.”
Tekad tersebut menjadi lebih dari sekadar upaya mempertahankan keterampilan bermusik. Di tengah larangan dan ancaman, mengajarkan rubab kepada anaknya merupakan cara untuk menjaga ingatan, identitas, dan kesinambungan budaya keluarganya.
Sang penyanyi pun memiliki keyakinan serupa. Baginya, musik bukan sekadar hiburan yang bisa dihilangkan melalui kebijakan atau larangan. Musik telah menjadi bagian dari kehidupan dan identitas masyarakat Afghanistan.
Ia percaya, sekeras apa pun upaya untuk membungkamnya, musik akan tetap hidup dalam masyarakat.
“Tidak ada seorang pun yang bisa benar-benar memisahkan musik dari masyarakat Afghanistan,” katanya.
“Keduanya tak terpisahkan, ibarat kuku dengan daging.”
Di negeri tempat musik kini harus disembunyikan, para musisi kehilangan panggung, pekerjaan, bahkan sebagian dari kehidupan yang pernah mereka miliki. Namun, selama masih ada orang tua yang bersedia mengajarkan rubab kepada anaknya dan masyarakat yang menyimpan kenangan tentang alunan musik tradisional, warisan itu belum sepenuhnya padam.
Sebab, bagi mereka, musik bukan hanya tentang bunyi dan irama. Musik adalah warisan keluarga, sumber penghidupan, dan bagian dari jati diri sebuah bangsa. (AP/nov)


