BRIEF.ID – Jumlah anggota militer Amerika Serikat (AS) yang terluka dalam perang melawan Iran meningkat melampaui 300 orang, dengan lebih dari dua lusin tentara terluka, pada pekan ini akibat serangan Iran di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, pada 27 Maret 2026.
Iran menembakkan enam rudal balistik dan 29 drone ke pangkalan udara Pangeran Sultan yang melukai setidaknya 15 tentara, termasuk lima orang yang terluka parah. Pejabat AS awalnya melaporkan bahwa setidaknya 10 tentara AS terluka, termasuk dua orang yang terluka parah.
Lebih banyak pasukan AS mencapai Timur Tengah, dengan sebuah kapal Angkatan Laut yang mengangkut sekitar 2.500 orang Marinir, demikian Komando Pusat AS mengumumkan pada Sabtu (28/3/2026). Kapal serbu amfibi USS Tripoli serta unsur-unsur dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 yang berada di dalamnya, berbasis di Jepang. Mereka sedang melakukan latihan di daerah sekitar Taiwan ketika perintah untuk dikerahkan ke Timur Tengah datang, pada dua pekan lalu.
Komando Pusat mengatakan, selain Marinir, Tripoli juga membawa pesawat angkut dan pesawat tempur serang, serta aset serbu amfibi ke wilayah tersebut. USS Boxer dan dua kapal lainnya, bersama dengan Unit Ekspedisi Marinir lainnya, juga telah diperintahkan ke wilayah tersebut dari San Diego.
Pangkalan Pangeran Sultan telah diserang dua kali pada pekan ini, termasuk insiden yang melukai 14 orang tentara AS, menurut sumber yang tidak berwenang untuk membahas masalah ini secara terbuka dan berbicara dengan syarat anonim. Dalam serangan lainnya, tidak ada yang terluka tetapi sebuah pesawat AS rusak.
Pangkalan Pangeran Sultan, yang berjarak sekitar 96 kilometer (60 mil) dari ibu kota Saudi, Riyadh, dikelola oleh Angkatan Udara Kerajaan Saudi, tetapi juga digunakan oleh pasukan AS. Instalasi itu telah menjadi sasaran hampir sejak awal perang, yang pada hari Sabtu mencapai satu bulan.
Sersan Angkatan Darat Benjamin N. Pennington, 26 tahun, terluka selama serangan 1 Maret 2026 di pangkalan Pangeran Sultan dan meninggal beberapa hari kemudian. Ia adalah salah satu dari 13 anggota militer yang tewas dalam perang di Timur Tengah. Enam dari mereka tewas ketika sebuah drone Iran menyerang pusat operasi di pelabuhan sipil di Kuwait. Enam lainnya tewas ketika pesawat pengisian bahan bakar mereka jatuh di Irak setelah insiden dengan pesawat lain yang menurut militer AS “bukan karena tembakan musuh atau tembakan dari pihak sendiri.”
Pentagon tidak segera menanggapi email yang meminta komentar pada hari Sabtu (28/3/2026) mengenai korban jiwa Amerika di pangkalan Saudi tersebut.
Komando Pusat mengatakan pada hari Jumat (27/3/2026) bahwa lebih dari 300 anggota militer telah terluka dalam perang tersebut. Sebagian besar telah kembali bertugas, sementara 30 masih absen dan 10 dianggap terluka parah.
Iran telah menanggapi serangan AS dan Israel dengan melancarkan serangan terhadap Israel serta negara-negara tetangga di Teluk. Perang telah mengganggu perjalanan udara global, mengganggu ekspor minyak, dan menyebabkan harga bahan bakar melonjak. Cengkeraman Iran di Selat Hormuz, jalur air strategis, telah memperburuk dampak ekonomi.
Dengan dampak ekonomi yang meluas jauh melampaui Timur Tengah, Presiden AS Donald Trump berada di bawah tekanan yang semakin besar untuk mengakhiri cengkeraman Iran di selat itu. Serangan terbaru terhadap pangkalan udara Saudi terjadi setelah Trump mengklaim pembicaraan tentang mengakhiri perang berjalan “sangat baik.”
Trump mengatakan telah memberi Teheran waktu hingga 6 April untuk membuka kembali Selat Hormuz. Iran mengatakan belum terlibat dalam negosiasi apa pun dengan AS. (Associated Press/nov)


