BRIEF.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laju inflasi pada Juni 2026 mencapai 3,34% secara tahunan (year-on-year/YoY). Adapun Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 108,27 pada Juni 2025 menjadi 111,89 pada Juni 2026.
Pemicu utama lonjakan inflasi pada Juni 2026 adalah kenaikan harga bahan pokok, terutama di kelompok makanan dan minuman, bukan kenaikan bahan bakar minyak (BBM).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengungkapkan, berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan angka inflasi sebesar 4,67% dan memberi andil inflasi Juni 2026 sebesar 1,36%.
“Komoditas dengan andil inflasi terbesar terutama pada bahan pokok seperti ikan segar, beras, minyak goreng, cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, dan sigaret kretek,” kata Ateng, dalam konferensi pers, di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Kelompok pengeluaran lain yang berkontribusi pada lonjakan inflasi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya, yakni mencapai 10,10% dan memberi andil inflasi Juni 2026 sebesar 0,69%.
“Inflasi pada kelompok ini terutama terjadi pada komoditas emas dan perhiasan,” ungkap Ateng.
Sedangkan komponen pengeluaran transportasi, yang sempat diduga menjadi kontributor tertinggi inflasi Juni 2026 hanya mencapai 4,57% dengan andil 0,55% untuk inflasi Juni 2026.
Sebelumnya, laju inflasi Indonesia diperkirakan mengalami akselerasi pada Juni. Salah satu pendorongnya adalah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax.
Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg hingga Selasa (30/6/2026) pagi dengan melibatkan 23 analis/ekonom menghasilkan median proyeksi inflasi Juni sebesar 3,2% (yoy).
Dengan demikian, angka inflasi Juni 2026 yang diumumkan BPS lebih tinggi dibanding proyeksi konsensus, dan lebih tinggi dari realisasi inflasi Mei 2026 yang sebesar 3,08%. (jea)


