BRIEF.ID – Pemerintah Indonesia mempertegas perannya memperkuat ketahanan ekonomi kawasan di tengah dinamika global yang ditandai ketidakpastian geopolitik, volatilitas pasar keuangan, dan tantangan transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Indonesia memposisikan diri sebagai kekuatan ekonomi yang resilien dengan kebijakan makro kredibel, koordinasi lintas sektor yang solid, serta komitmen kuat bagi pembangunan berkelanjutan dan inklusif.
Hal itu diungkapkan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat menjadi keynote speaker pada China Conference: Southeast Asia 2026 “Indonesia’s Growing Leadership in Southeast Asia’s Green Economy” di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
“Hong Kong memiliki kemitraan ekonomi khusus dengan Indonesia, dengan nilai perdagangan bilateral sekitar US$ 6,5 miliar dan dalam beberapa tahun terakhir telah berinvestasi sebesar US$ 10 miliar di Indonesia,” kata Airlangga.
Ia mengatakan, perjanjian Perdagangan Bebas Hong Kong–ASEAN yang berlaku sejak tahun 2020 telah membuka hubungan ekonomi dan bisnis antara Indonesia dan Hong Kong. Ia juga menyampaikan kinerja makroekonomi Indonesia menunjukkan prospek yang konstruktif, dengan pertumbuhan ekonomi Triwulan IV- 2025 mencapai 5,39% (yoy) dan pertumbuhan sepanjang tahun 2025 sebesar 5,11%.
“Inflasi tetap terkendali pada level 3,55% (yoy) Januari 2026 dan indeks PMI manufaktur berada pada fase ekspansi selama enam bulan berturut-turut di level 52,6,” kata Airlangga.
Di sektor eksternal, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$ 2,51 miliar pada Desember 2025 dan mempertahankan surplus selama 68 bulan berturut-turut.
Pertumbuhan itu diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat, tercermin dari tingkat kemiskinan yang menurun menjadi 8,5%, rasio gini sebesar 0,375, Indeks Pembangunan Manusia meningkat menjadi 75,9, serta penciptaan sekitar 1,4 juta lapangan kerja sepanjang tahun 2025.
Disebutkan, dalam memperkuat perdagangan global, Indonesia secara aktif terlibat dalam berbagai forum global dan regional seperti ASEAN, APEC, G20, dan COP. Pemerintah juga mempercepat implementasi berbagai perjanjian perdagangan strategis, termasuk penandatanganan Indonesia–Kanada CEPA, percepatan IEU–CEPA yang ditargetkan berlaku pada awal 2027, negosiasi penurunan tarif impor Amerika Serikat, serta proses aksesi OECD guna meningkatkan daya saing dan memperkuat reformasi struktural.
Selain itu, di bidang ekonomi hijau dan ketahanan energi, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan arah kebijakan yang jelas melalui Asta Cita. Pada 2026, Pemerintah menetapkan ketahanan energi sebagai prioritas nasional dengan alokasi anggaran sebesar Rp 402,4 triliun. Transformasi hijau ini didukung pengembangan energi terbarukan hingga 3.686 GW, pembangunan green supergrid, hilirisasi industri baterai kendaraan listrik dan panel surya, pengembangan bahan bakar nabati B40–B50, SAF, hidrogen, amonia hijau, serta penerapan teknologi CCS/CCUS.
Transformasi itu didukung komitmen internasional, termasuk pendanaan Just Energy Transition Partnership (JETP) serta percepatan kerja sama AZEC. Selain memperkuat ketahanan energi, agenda ekonomi hijau ini diproyeksikan mampu menciptakan hingga 4,4 juta lapangan kerja baru hingga tahun 2029, yang didukung melalui program pemagangan dan pengembangan keterampilan berkelanjutan.
“Perjalanan menuju perekonomian Indo-Pasifik yang berkelanjutan dan masa depan net-zero bukanlah jalan yang dapat ditempuh sendiri. Sinergi antara kepemimpinan Indonesia dan keunggulan teknologi para mitra kawasan termasuk Tiongkok merupakan mesin penggerak ketahanan ekonomi Asia Tenggara,” tutup Menko Airlangga.
Hadir dalam acara itu, di antaranya yakni Publisher South China Morning Post Tammy Tam, Deputy Secretary for Justice Government of Hong Kong SAR Horace Cheung Kwok-kwan, Charge d’Affaires ad interim Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok Zhou Kan, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Anindya Novyan Bakrie, dan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani.
Selanjutnya, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir, Vice Chairman National Committee of the Chinese People’s Political Consultative Conference CY Leung, Vice President and General Manager of Solution Architects Public Cloud Alibaba Cloud Intelligence Group Hongyuan Han, serta para pemimpin industri dan pemangku kepentingan dari kawasan Asia dan global. (nov)


