IHSG Terkoreksi, Pasar Asia Tumbang

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis  0,08% ke level 7.091, pada Senin (30/3/2026).   Harga minyak Brent melonjak 3,5% ke US$ 116,51 per barel setelah Houthi Yaman  yang didukung Iran mulai menyerang Israel.

Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi dan pangan secara global. Volume perdagangan mencapai 242,1 juta lot saham, yang menghasilkan nilai transaksi Rp 14,38 triliun.

Dikutip dari  D’ORIGIN Interactive News, saham top gainers LQ45 adalah AADI, DSSA, MAPI, BUMI, AKRA, HEAL, dan MEDC. Sedangkan top losers LQ45 yaitu INCO, MDKA, BBCA, NCKL, AMRT, EMTK, dan SCMA.

Saham-saham  sektor  energi yang mengalami kenaikan  2,18% yang didukung  MEDC naik +4,89%, ITMG +4,34%, HRUM +3,86%, INDY +3,47%, ADRO +3,15%, PTBA +1,61%, PGEO +1,49%, dan ELSA +1,37%.

Sementara itu, saham-saham sektor keuangan  turun cukup signifikan  yaitu sebesar  1,17, %. Saham sektor ini yang melemah di antaranya BBCA -3,73%, MEGA -3,20%, PNBN -2,04%, BTPS -1,90%, BBRI -1,75%, BMRI -1,26%, dan BBNI -1,28%.   

Pasar Asia Tumbang

Pasar saham Asia tumbang pada perdagangan hari Senin (30/3/2026) sore. Investor bersiap menghadapi konflik Teluk yang berkepanjangan. Konflik ini telah membuat harga minyak menuju rekor kenaikan bulanan, membawa lonjakan inflasi dan risiko resesi ke sebagian besar dunia.

Pakistan mengatakan sedang bersiap untuk menjadi tuan rumah “perundingan yang bermakna” untuk mengakhiri konflik  Iran dalam beberapa hari mendatang. Meskipun Teheran menuduh Washington sedang mempersiapkan serangan darat disaat militer AS membangun kekuatan di wilayah tersebut.

Financial Times pada Minggu (29/3/2026) malam mengutip pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang mengatakan AS dapat merebut Pulau Kharg di Teluk Persia, lokasi di mana Iran mengekspor sebagian besar minyaknya, tetapi juga bahwa gencatan senjata dapat terjadi dengan cepat.

Kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran juga melancarkan serangan pertama  terhadap Israel sejak awal konflik.

“Pengendalian Iran atas Selat Hormuz, kemampuannya  mengganggu pasar energi dan pangan global, serta kemampuan rudal dan drone yang berkelanjutan memberikan sedikit insentif bagi Iran untuk menyerah, sehingga menekan AS untuk meningkatkan eskalasi,” kata Madison Cartwright, analis geo-ekonomi senior di Commonwealth Bank of Australia.

“Kami memperkirakan perang akan berlangsung setidaknya hingga Juni, dengan risiko cenderung pada konflik yang lebih lama.”

Perang di selat Hormuz telah menyebabkan harga minyak, gas, pupuk, plastik, dan aluminium melonjak, bersamaan dengan bahan bakar untuk pesawat dan kapal. Harga makanan, obat-obatan, dan produk petrokimia semuanya diperkirakan akan naik.

Ini adalah kabar buruk bagi Asia, karena sebagian besar wilayah tersebut sangat bergantung pada energi dari Timur Tengah.

“Semakin lama Selat Hormuz  tertutup, semakin tajam pula penurunan pasokan cadangan yang dapat memicu peningkatan dramatis harga minyak mentah, gas alam, dan komoditas lainnya,” kata Bruce Kasman, kepala ekonomi global di JPMorgan.

“Skenario di mana Selat tetap tertutup selama satu bulan tambahan akan konsisten dengan kenaikan harga minyak menuju $150/bbl dan kendala pasokan energi bagi konsumen industri.”

Ancaman inflasi telah menyebabkan investor merevisi prospek suku bunga hampir di mana-mana. Pasar saat ini mengindikasikan pengetatan kebijakan moneter sebesar 12 basis poin oleh Federal Reserve tahun ini, dibandingkan dengan pemotongan sebesar 50 basis poin sebulan yang lalu.

Bursa Eropa

Market saham Eropa dibuka di wilayah negatif pada perdagangan hari Senin (30/3/2026) karena investor bergulat dengan eskalasi lebih lanjut dalam perang Iran dan konflik tersebut memasuki minggu kelima.

Indeks pan-Eropa Stoxx 600 dibuka 0,3% lebih rendah dengan sektor otomotif, perbankan, industri, dan jasa keuangan semuanya diperdagangkan di wilayah negatif.

Bursa-bursa Eropa mengikuti tren negatif yang ditunjukkan oleh bursa Asia-Pasifik. Karena para pedagang mencerna perkembangan perang terbaru selama akhir pekan.

Harga minyak menguat pada perdagangan hari Senin (30/3/2026) sore setelah Houthi Yaman melancarkan serangan pertama ke Israel pada akhir pekan, memperluas perang AS-Israel dengan Iran di Timur Tengah.

Harga minyak mentah Brent berjangka melonjak 3,5% menjadi US$ 116,51 per barel dan  minyak West Texas Intermediate AS naik 1,87%.

“Pasar hampir sepenuhnya mengabaikan prospek penyelesaian perang melalui negosiasi, terlepas dari klaim Trump tentang pembicaraan ‘langsung dan tidak langsung’ yang sedang berlangsung dengan Iran, dan bersiap menghadapi peningkatan tajam dalam permusuhan militer, yang merupakan sinyal positif bagi harga minyak mentah,” kata Vandana Hari, pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights seperti dikutip Reuters. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Multivision Berencana Right Issue  

BRIEF.ID - PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) akan...

IHSG Diperkirakan Bergerak Terbatas

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan...

Bursa Wall Street Berfluktuasi, Harga Minyak Lanjutkan Tren Kenaikan

BRIEF.ID – Bursa saham Wall Street, New York, Amerika...

Trump Ancam Hancurkan Sumber Daya Energi Iran

BRIEF.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam...