BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin (19/10/2026), jatuh ke level 4.900 atau mundur ke level 10 tahun lalu.
Pada akhir sesi I perdagangan hari ini, IHSG ditutup terkoreksi 5,05% atau 26184 poin ke level 4.923. Sebelumnya pada awal perdagangan IHSG dibuka melemah 4,31% atau 223,23 poin ke posisi 4.961.
Sepanjang 3 jam sesi I perdagangan yang berakhir pukul 12:00 waktu JATS, IHSG terus tertekan di zona merah dengan menyentuh level tertinggi di 4.974, dan level terendah di 4.907.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 744 saham turun harga, 42 saham naik harga, dan 13 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan sepanjang sesi I perdagangan mencapai 16,890 miliar lembar,d engan frekuensi transaksi sebanyak 872.556 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp10,034 triliun.
IHSG masih melanjutkan tren melemah seiring tekanan jual yang dilancarkan investor pascapengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), pada JUmat (16/10/2026).
Usulan MSCI menurunkan kelas indeks Indonesia dari emerging market menjadi standalone market, memicu panic selling yang membuat IHSG ditutup terkoreksi 11,57% atau 678,67 poin ke level 5.185, dengan 775 saham turun harga, hanya 10 saham naik harga, dan 10 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Pelemahan IHSG sedikit tertahan oleh meredanya tekanan eksternal, seiring turunnya harga minyak dunia, dan berkurangnya ekspetasi pelaku pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal reserve (Thee Fed).
Selain itu, keputusan BEI menurunkan batas Auto Rejection Bawah (ARB) dari 15% menjadi 7%, untuk harga saham mulai Rp11 ke atas, yang berlaku efektif hari ini, sedikit meredam tekanan jual yang dilancarkan investor.
Dengan kebijakan ini, secara praktis IHSG ampir tidak mungkin mencapai batas penurunan 8% yang memicu trading halt (penghentian sementara perdagangan) dalam kondisi perdagangan normal.
Meski demikian, jatuhnya IHSG ke level 4.900 merupakan kemunduran, karena kondisi bursa saham seolah kembali ke 13 tahun lalu. IHSG pertama kali menyentuh level psikologis 4.900 pada perdagangan tanggal 8 Maret 2013.
Pelemahan IHSG hari ini masih dipicu tekanan jual terhadap saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), antara lain PT Bank Central Indonesia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), yang terkoreksi lebih dari 6%.
Harga saham BBCA terpantau merosot 6,86% atau Rp355 menjadi Rp4.820 per lembar, BBRI anjlok 6,82% atau Rp180 menjadi Rp2.460 per lembar, TLKM jatuh 6,84% atau Rp130 menjadi Rp1.770 per lembar, dan SMGR terkoreksi 6,99% atau Rp95 menjadi Rp1.265 per lembar.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi melanjutkan tren melemah, dan bergerak di kisaran level support 4.900 hingga level resistance 5.000. (Jea)


