BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak sideways pada kisaran 6.400 hingga 6.600 dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (15/9/2026).
Riset Phintraco Sekuritas menyebutkan, IHSG akan bergerak pada level resistance 6.600, pivot 6.500, dan support 6.400. Sejumlah saham yang diunggulkan antara lain BMRI, BBNI, BBRI, TLKM, dan ASII.
Sebelumnya, IHSG ditutup melemah tipis pada level 6.534,69 atau turun 0,10% pada perdagangan Senin (14/9/2026), setelah sempat menyentuh level terendah intraday di 6.371.
Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level MA100. Indikator MACD menunjukkan pelebaran histogram negatif, sedangkan Stochastic RSI berada di area oversold, tetapi belum mengindikasikan terjadinya reversal.
“Diperkirakan IHSG bergerak sideways pada kisaran 6.400-6.600 pada perdagangan Selasa (15/9/2026),” demikian disebutkan dalam riset Phintraco Sekuritas.
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan pada Senin (14/9/2026), menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Sebelumnya, Suahasil menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak era Presiden Joko Widodo.
Pergantian Menteri Keuangan diharapkan dapat menjaga kredibilitas dan disiplin fiskal sehingga defisit APBN tetap aman di bawah batas 3%. Selain itu, karena telah menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan dalam waktu relatif lama, Suahasil dinilai memiliki pemahaman yang cukup rinci mengenai postur anggaran sehingga transisi pelaksanaan kebijakan fiskal dapat berjalan lancar.
Investor berharap pergantian Menteri Keuangan dapat mengembalikan kredibilitas dan konsistensi fiskal sehingga meningkatkan kembali kepercayaan investor domestik maupun global terhadap kondisi makroekonomi dan pasar keuangan Indonesia.
Jika hal tersebut terealisasi, kondisi itu diharapkan dapat mendorong capital inflow, sehingga rupiah menguat, yield Surat Berharga Negara (SBN) menurun, dan IHSG menjadi lebih stabil.
Bagi pasar saham, dampak jangka pendek dari pergantian Menteri Keuangan diperkirakan cenderung memicu fluktuasi. Sementara itu, dalam jangka panjang, investor akan menantikan realisasi kebijakan yang diterapkan pemerintah. (nov)


