BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berpotensi melemah pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (27/7/2026), dengan peluang menguji area 6.000–6.100 di tengah meningkatnya sentimen negatif dari pasar global.
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, IHSG diproyeksikan bergerak pada level resistance 6.300, pivot 6.200, dan support 6.000. Sejumlah saham yang direkomendasikan untuk dicermati, antara lain BBCA, TPIA, BULL, AKRA, TOWR, dan BRIS.
Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa potensi pelemahan IHSG dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, termasuk memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, kenaikan harga minyak dunia, serta kebijakan tarif tambahan yang diberlakukan Amerika Serikat.
Di pasar global, indeks-indeks utama Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (24/7). Saham-saham sektor semikonduktor masih mengalami tekanan, sementara investor terus memantau perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan segera memutuskan apakah akan melancarkan serangan besar terhadap Iran setelah konflik meluas hingga kawasan Laut Merah.
Di sisi lain, harga minyak sempat terkoreksi setelah muncul laporan bahwa Pakistan tengah mempertimbangkan jalur untuk memulai kembali perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran dengan dukungan Tiongkok.
Sentimen lainnya berasal dari kebijakan perdagangan AS. Pemerintahan Trump memberlakukan tarif terhadap produk dari lebih dari 80 negara dengan alasan negara-negara tersebut dinilai gagal mencegah praktik kerja paksa. Kebijakan yang mencakup sekitar 99,4 persen perdagangan AS itu langsung menghadapi gugatan hukum dari dua pelaku usaha kecil hanya beberapa jam setelah diberlakukan.
Pekan ini, perhatian investor global juga akan tertuju pada sejumlah agenda ekonomi penting, termasuk hasil pertemuan Federal Reserve (The Fed) pada 28–29 Juli 2026, rilis data produk domestik bruto (PDB) AS kuartal II-2026, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), serta laporan keuangan emiten-emiten teknologi besar.
Dari Eropa, pelaku pasar akan mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi dan inflasi Zona Euro serta keputusan kebijakan moneter Bank of England (BoE). Sementara di Asia, perhatian investor akan tertuju pada keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ) dan pertemuan Politbiro Tiongkok yang akan mengevaluasi kondisi ekonomi pada pertengahan tahun.
Selain perkembangan geopolitik dan data ekonomi global, investor di dalam negeri juga akan memantau musim laporan keuangan kuartal II-2026 serta berbagai aksi korporasi emiten yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar saham. (nov)


