BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan berpotensi melanjutkan penguatan menyusul blokade Selat Hormuz yang dilakukan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS).
Riset Phintraco Sekuritas menyebutkan, IHSG akan bergerak pada resistance 7.600, pivot 7.500, dan support 7.300. Saham-saham yang diunggulkan adalah CUAN, RATU, NICL, ANTM, dan LSIP.
“Jika IHSG mampu bertahan di atas level 7.500, diperkirakan berpotensi menguji level 7.600,” demikian riset Phintraco Sekuritas, yang dirilis Selasa (14/4/2026).
Sebelumnya, IHSG ditutup menguat di level 7.500,19 atau naik 0,56% pada perdagangan Senin (13/4/2026), setelah sempat bergerak di teritori negatif di awal perdagangan.
Secara teknikal, indikator MACD berlanjut membentuk histogram positif, namun Stochastic RSI berada di area overbought.
Nilai tukar Rupiah ditutup melemah tipis 0,01% di level Rp 17.105 per Dolar AS di pasar spot, Senin (13/4/2026). Data penjualan ritel domestik tumbuh 6,5% YoY di Februari 2026 dari 5,7% YoY pada Januari 2026, serta lebih tinggi dari perkiraan yang sebesar 5,9% YoY.
Pertumbuhan ini merupakan yang tercepat sejak Maret 2024, yang didorong oleh kenaikan belanja masyarakat di bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri. Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto melawat ke Rusia untuk bertemu Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin.
Pertemuan kedua pemimpin akan membahas kelanjutan kerja sama kedua negara, termasuk penguatan pasokan minyak ke Indonesia di tengah konflik di Timur Tengah, saat ini.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, investor asing terus keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN), pada setahun terakhir. Disebutkan, hingga 8 April 2026, kepemilikan SBN oleh investor asing mencapai Rp857.60 triliun atau setara 12,60% dari total SBN yang diperdagangkan, turun dari Rp 893.47 triliun atau setara 14,34% pada 8 April 2025.
Sebaliknya, pada periode yang sama, kepemilikan SBN oleh bank domestik semakin meningkat, yaitu dari 18,37% menjadi 23,58%. Hal ini didorong oleh penempatan dana pemerintah di perbankan yang mencapai Rp300 triliun.


