BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak mix atau variatif pada perdagangan hari ini, Selasa (9/12/2025).
Mayoritas saham unggulan terpuruk ke zona merah, namun 3 saham Bank Usaha Milik Negara (BUMN) berkapitalisasi besar tetap bertahan di zona hijau.
Pada awal sesi I perdagangan saham hari ini, IHSG dibuka menguat 0,37% atau 32,52 poin ke level 8.743. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 0,59% atau 5,04 poin ke posisi 860,11.
Hingga pukul 11:00 waktu JATS, IHSG terpantau melemah ke zona merah dan berada di level 8.670. Selama 2 jam perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 8.749, dan level terendah di 8.670.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 417 saham turun harga, 242 saham naik harga, dan 134 saham tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Adapun volume transaksi terpantau mencapai 24,551 miliar lembar,d dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.547.976 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp11,473 triliun.
Tekanan terhadap IHSG terjadi seiring aksi risk-off yang dilakukan investor dengan melepas saham-saham unggulan, seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dan PT Bank Central Asial Tbk (BBCA).
Saham TLKM terpantau turun 1,93% atau Rp70 menjadi Rp3.560 per lembar, ASII terkoreksi 3,35% atau Rp225 ke Rp6.500 per saham, GGRM melemah 2,36% menjadi Rp14.450 per lembar, dan BBCA turun 1,81% atau Rp150 menjadi Rp8.150 per saham.
Meski demikian tekanan terhadap IHSG mampu ditahan saham bank BUMN dan saham-saham lapis kedua yang diborong investor. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terpantau menguat 0,40% atau Rp20 menjadi Rp4.970 per lembar.
Sementara saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terpantau berada di level Rp3.670 per lembar, dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di posisi Rp4.310 per lembar.
Pergerakan IHSG hari ini masih dipengaruhi sentimen pelaku pasar terhadap kebijakan suku bunga acuan yang akan diputuskan rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Federal Reserve (The Fed).
Mengutip CME FedWatch, peluang penurunan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5-3,75% dalam rapat FOMC 10 Desember adalah 87,3%. Sementara kemungkinan bertahan di 3,75-4% adalah 12,7%.
Sementara dari dalam negeri, sentimen positif penopang IHSG datang dari tingginya ekspetasi pelaku pasar terhadap rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) November 2025yang akan dirilis Bank Indonesia (BI).
Pelaku pasar meyakini IKK November 2025 meningkat atau sedikit lebih tinggi dibandingkan periode Oktober 2025. Hal itu, membuat investor sebagian besar mengoleksi saham sektor properti dan konsumsi pada perdagangan hari ini.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi bergerak mixed dengan kecenderungan menguat tipis di kisaran level support 8.650 hingga level resistance 8.800. (jea)


