BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpuruk ke zona merah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (27/2/2026), imbas Amerika Serikat (AS) menaikkan tarif impor panel surya.
Pada penutupan sesi I perdagangan saham hari ini, IHSG melemah 0,31% atau 25,93 poin ke level 8.209. Sebelumnya pada awal perdagangan, IHSG dibukan melemah 1,27% atau 104,83 poin ke level 8.130.
Sepanjang 3 jam perdagangan, mulai pukul 09:00 WIB hingga 12:00 WIB, IHSG terpantau bergerak di zona merah dan sempat menyentuh level tertinggi di 8.219, dan level terendah di 8.093.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 420 saham turun harga, 239 saham naik harga, dan 156 saham tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Adapun volume saham yang ditransaksikan sepanjang sesi I mencapai 26,489 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.505.039, dan nilai transaksi sebesar Rp11,261 triliun.
Pelemahan IHSG dipicu sentimen negatif seiring pengumuman Departemen Perdagangan AS yang menaikkan tarif impor panel surya terhadap Indonesia, India, dan Laos.
Untuk Indonesia, AS menaikkan tarif impor panel surya sebesar 104,38%. Sedangkan untuk India diberlakukan tarif impor panel surya sebesar 125,87%, dan untuk Laos 80,67%.
Selain tarif umum, AS juga menghitung tarif khusus untuk entitas perusahaan. Di Indonesia, PT Blue Sky Solar dikenakan tarif 143,3% dan PT REC Solar Energy dikenakan tarif 85,99%.
Departemen Perdagangan AS beralasan industri panel surya di Indonesia, India, dan Laos dilindungi subsidi, sehingga impor dari perusahaan-perusahaan produsen panel surya di ketiga negara tersebut perlu dinaikkan.
Pengumuman terbaru kebijakan tarif impor dari Departemen Perdagangan AS tersebut, meningkatkan kegelisahan tekanan ekspor dan eskalasi proteksionisme.
Selain itu, sentimen pemberlakukan aturan minimum free float 15% memunculkan kekhawatiran potensi notasi khusus hingga risiko delisting bagi emiten yang belum siap, mendorong aksi jual, terutama dari investor asing.
Investor juga mencermati perkembangan perundingan nuklir AS-Iran, yang telah disepakati akan berlangsung pekan depan. Hal tersebut, sedikit menurunkan tensi ketegangan politik di Timur Tengah.
Tak hanya itu, peringatan dari S&P Global Ratings terkait meningkatnya tekanan fiskal, khususnya kenaikan biaya pembayaran utang, memperbesar risiko penurunan terhadap profil kredit Indonesia dan dapat memicu tindakan peringkat negatif.
Peringatan tersebut menunjukkan kekhawatiran yang semakin meluas terhadap posisi fiskal Indonesia, yang sebelumnya juga disoroti sejumlah lembaga keuangan dan pemeringkat global.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi masih bergerak di zona merah pada kisaran level support 8.080 hingga level resistance 8.220. (jea)


