BRIEF.ID – Harga minyak dunia terhempas dari level US$100 per barel setelah Iran setuju membuka kembali Selat Hormuz, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS) selama dua minggu ke depan.
Pada perdagangan hari ini, harga minyak mentah Brent terkoreksi sekitar 13% menjadi US$94,80 per barel, sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok lebih dari 15% menjadi US$95,75 per dolar AS.
Meski demikian, harga minyak dunia masih tetap tinggi dibandingkan harga sebelum serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Pada saat itu, harga minyak dunia diperdagangkan sekitar US$70 per barel.
Kabar mengenai kesepakatan gencatatn senjata antara AS dan Iran, menjadi sentimen negatif bagi harga minyak dunia, yang telah mengalami kenaikan signifikan sejak awal Maret 2026.
Sebaliknya, kesepakatan gencatan senjata AS-Iran justru menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan dunia, ditandai dengan penguatan indeks saham, mata uang negara-negara terhadap dolar AS, hingga lonjakan harga emas.
Indeks saham utama di kawasan Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Rabu (8/4/2026). Nikkei 225 Jepang naik 5%, Kospi Korea Selatan melonjak hampir 6%, Indeks Hang Seng Hong Kong naik 2,8%, dan ASX 200 Australia naik 2,7%.
Mayoritas mata uang Asia juga dibuka menguat terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, antara lain Won Korea Selatan yang menempati posisi tertinggi setelah melonjak 1,69%.
Dalam unggahan di media slosial pada Selasa (7/4/2026) malam waktu setempat, Presiden AS, Donald Trump, mengatakan telah menyetujui gencatan senjata dengan pihak Iran selama 2 minggu ke depan, asalkan Iran membuka kembali Selat Hormuz.
“Saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu… dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui PEMBUKAAN LENGKAP, SEGERA, dan AMAN Selat Hormuz,” tulis Trump.
Sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pihaknya akan menyetujui gencatan senjata jika serangan terhadap Iran sepenuhnya dihentikan”. Dia juga menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz dan jaminan keamanan sangat dimungkinkan.
Seperti diketahui, Iran menutup Selat Hormuz sejak 1 Maret 2026, setelah serangan AS dan Israel, yang menyebabkan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas.
Hal itu, membuat sebagian besar kapal tanker yang memuat minyak dari negara-negara Timur Tengah terdampar di Teluk Persia, karena tak dapat melewati Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama distribusi minyak dunia.
Jaminan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, memberi angin segar, bahkan mengikis kekhawatiran terkait krisis energi global, yang telah membuat harga minyak dan gas dunia melonjak tajam. (jea)
Sejumlah negara telah melakukan upaya penghematan energi, termasuk Indonesia, yang mewajibkan Aparatur Sipil Negara (ASN) bekerja dari rumah atau work from home (WFH) satu hari dalam sepekan. Kebijakan tersebut juga disarankan kepada perusahaan swasta. (jea)


