BRIEF.ID – Indeks di Bursa Wall Street, New York, Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Pelemahan terjadi menyusul kemerosotan saham-saham teknologi dan pemogokan baru di Teluk yang meredupkan harapan terwujudnya kesepakatan damai AS-Iran.
Serangan militer antara AS-Iran dan serangan Israel terhadap Lebanon semakin menambah ketidakpastian akan prospek perdamaian di kawasan tersebut.
Indeks acuan S&P 500 turun 0,7% menjadi 7.555,82 poin, NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,9% menjadi 26.853,98 poin, dan Dow Jones Industrial Average yang didominasi saham blue-chip turun 1,2% menjadi 50.688,43 poin.
Laporan media menyebutkan, Iran telah mengusulkan peta jalan terstruktur empat fase, yang bertujuan mencapai kesepakatan damai dengan AS.
Fase pertama adalah penghentian total operasi militer, diikuti fase kedua yaitu pencabutan blokade, penghapusan sanksi minyak, dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Fase ketiga mencakup negosiasi yang lebih luas tentang sanksi dan isu-isu nuklir. Dan, yang keempat adalah pembentukan komite pengawas untuk memantau implementasi rencana itu.
Sementara itu, data laporan bulanan ADP menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja di sektor swasta mencapai 122 ribu di Mei 2026, yang merupakan peningkatan terbesar sejak Januari 2025.
Pada Rabu (3/6/2026), harga minyak naik sekitar 2% setelah Israel menyatakan bahwa AS dan Israel bersiap menyerang Iran lagi jika diperlukan. Obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 3 bps ke level 4,489%, yang didorong data tenaga kerja AS yang lebih baik dari estimasi serta kenaikan harga minyak. Harga emas melemah hampir 1% di level US$ 4.440 per troy ons, akibat ekspektasi inflasi yang meningkat. (nov)


