Bukan Hanya Jenis Makanan, Waktu Ngemil Juga Berkaitan dengan Risiko Penyakit Hati

BRIEF.ID – Kebiasaan makan menjelang tidur bukan hanya berkaitan dengan pola istirahat, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan hati dalam jangka panjang. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa orang yang terbiasa mengonsumsi camilan larut malam memiliki risiko penyakit hati lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak melakukannya.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology itu melibatkan hampir 200.000 orang dalam tiga penelitian. Hasilnya menunjukkan, kebiasaan makan setelah makan malam atau setelah waktu tidur berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit hati berlemak terkait disfungsi metabolik (metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease/MASLD) maupun sirosis.

Selama rata-rata 16 tahun masa pemantauan, peserta yang terbiasa makan larut malam tercatat memiliki risiko berbagai jenis penyakit hati 20 hingga 30 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak memiliki kebiasaan tersebut.

Temuan ini memperkuat perhatian terhadap waktu makan sebagai salah satu aspek yang perlu diperhitungkan dalam menjaga kesehatan. Artinya, pola makan tidak hanya berkaitan dengan apa dan berapa banyak makanan yang dikonsumsi, tetapi juga kapan makanan tersebut dikonsumsi.

Dilansir dari Antaranews, salah seorang penulis penelitian, Dr. Andrew W. McHill, mengatakan waktu pelaksanaan berbagai aktivitas sehari-hari, termasuk tidur, makan, dan berolahraga, berpengaruh terhadap kesehatan.

Menurut para peneliti, salah satu faktor yang mendasari hubungan tersebut adalah ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Hati memiliki mekanisme internal yang membantu mengatur metabolisme. Karena itu, waktu makan berpotensi memengaruhi cara organ tersebut memproses makanan.

Makan pada malam hari, ketika jam biologis tubuh mulai beralih ke fase istirahat, dapat membuat proses metabolisme makanan tidak berlangsung seefisien pada waktu yang lebih sesuai dengan ritme tubuh.

Salah satu kondisi yang menjadi perhatian dalam penelitian tersebut adalah MASLD, yaitu penyakit yang ditandai oleh penumpukan lemak di hati. Kondisi ini dapat berkembang menjadi peradangan dan, pada sebagian kasus, berlanjut ke gangguan hati yang lebih serius.

MASLD terkadang tidak menimbulkan gejala yang jelas. Namun, jika berkembang, penyakit tersebut dapat menyebabkan fibrosis hati berat hingga sirosis.

Sirosis merupakan tahap lanjut kerusakan hati yang ditandai dengan terbentuknya jaringan parut permanen. Kerusakan tersebut dapat mengganggu berbagai fungsi penting hati, termasuk memproduksi protein, membantu melawan infeksi, membersihkan darah, dan mendukung proses pencernaan.

Gejala sirosis dapat berupa kelelahan, kulit menguning, mudah memar, rasa gatal yang berat, serta komplikasi lain yang memengaruhi kesehatan tubuh.

Meski demikian, peningkatan risiko dalam penelitian tersebut tidak berarti setiap orang yang makan larut malam akan mengalami penyakit hati berat.

Penulis utama penelitian, Dr. Robert Wilechansky, menegaskan bahwa hanya sebagian kecil orang yang mengalami penyakit hati berlemak berkembang menjadi kondisi serius, seperti sirosis.

Karena itu, temuan ini lebih tepat dipahami sebagai pengingat untuk memperhatikan kebiasaan makan secara menyeluruh, termasuk waktu mengonsumsi makanan, bukan sebagai alasan untuk menganggap setiap camilan malam berbahaya.

Mengonsumsi makanan ringan sebelum tidur memang dapat membantu meredakan rasa lapar untuk sementara. Namun, kebiasaan makan larut malam yang dilakukan berulang kali patut menjadi perhatian, terutama dalam konteks pola hidup dan kesehatan metabolik jangka panjang.

Dengan memahami hubungan antara jam biologis dan metabolisme, masyarakat dapat lebih memperhatikan bukan hanya pilihan makanan, tetapi juga pola waktu makan sehari-hari. (ang)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

BEI Terus Berbenah, Bakal Keluarkan Saham HSC dari Perhitungan IHSG

BRIEF.ID - Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal  mengeluarkan seluruh...

IHSG Melesat ke Level 5.200, Lebih dari 600 Saham Naik Harga

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Saham 8 Emiten Indonesia di MSCI Global Standard Index Kembali Bangkit, Ada yang Naik Hingga 12%

BRIEF.ID - Saham 8 emiten (perusahaan tercatat) Indonesia yang...

Rupiah Menguat Tinggalkan Level Rp18.000 di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah menguat hingga meninggalkan...